Tuhan Bekerja dan Saya pun di Raja Ampat (part 2)

Hari ke-2…..

I can say that this is the main day of our Raja Ampat trip. Sekitar pukul 07.00 kami meninggalkan homestay. Hari ini kami merencanakan beberapa titik wisata. Yang pertama Piaynemo. Dari homestay kami, pulau ini ditempuh dengan 2 jam perjalanan. Piaynemo dikenal juga dengan sebutan Mini Wayag. Wayag adalah salah satu bagian dari Kepulauan Raja Ampat yang paling terkenal. Piaynemo ini bentuknya memang menyerupai Wayag cuma dengan lingkup areal yang lebih kecil. Untuk masuk ke Piaynemo, kami dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang. Speedboat kami merapat di darmaga Piaynamo homestay. Ternyata speedboat kami yang paling duluan merapat. Disusul satu boat yang isinya seorang turis Eropa dan beberapa guidenya. How lucky we were. It’s mean there’s a lot of space to take the photograph and enjoy Piaynemo for our little group.

Darmaga Piaynemo

Darmaga Piaynemo

Kami berjalan menyusuri darmaga menuju ke arah puncak Piaynemo. Tracking menuju puncak dimudahkan dengan fasilitas anak tangga yang katanya berjumlah ratusan. Walaupun sudah dilengkapi anak tangga, karena fisik menciut gegara gak pernah olahraga, sampai puncak pun ngos-ngosan juga rasanya hehehe.

Tracking track

Tracking track

Tapi sesampai di puncak, apa yang didapat rasanya sepadan. Akhirnya terlihatlah pemandangan yang selama ini cuma bisa dirasa-rasa lewat foto-foto orang. Capek siih, tapi worth it lah dapat pemandangan yang Alhamdulillah banget dikasi kesempatan buat menikmatinya.

Piaynemo

Piaynemo

Laguna Bintang

Laguna Bintang

20150122_100006Setelah puas menikmati Piaynemo (well, gak sampe puas sih soalnya 30 menit kemudian datang rombongan besar turis China dan Jepang yaang membuat kami mau gak mau lebih memilih bergeser ke tempat yang lebih tenang hahaha), kami melanjutkan perjalanan ke situs selanjutnya Kampung Wisata Arborek.

Darmaga Kampung Arborek

Darmaga Kampung Arborek

Pulau Arborek merupakan salah satu pulau berpenghuni di Raja Ampat. Di sini aktifitas warganya kebanyakan membuat kerajinan. Sayang sekali untuk kesempatan kali ini kami tidak masuk ke dalam kampung untuk melihat aktifitas warga. Dari darmaga, kami melihat kampung sepi seakan tidak ada aktifitas, jadi ingin masuk pun rasanya enggan. Kami makan siang di darmaga. Setelah itu bermain air di sekitar darmaga. Kampung Arborek ini menjadi salah satu best spot untuk snorkling dan diving. Dari atas darmaga saja kami sudah bisa melihat terumbu-terumbu karang yang cantik dan bintang laut juga ikan-ikan yang asik seliweran. Apa kabar kalo langsung nyemplung kan? hehe.

See those little fishes!

See those little fishes!

Beberapa teman menikmati snorkling. Saya sendiri belum berani turun main air di site ini. Hanya berani memandangi dari atas padahal persiapan mental sudah dilakukan sejak awal keberangkatan. Tapi pas ketemu air dalam, walaupun jernih ternyata jiper juga. Hahaha. Di site ini arus laut cukup deras, jadi guide kami mengingatkan untuk berhati-hati saat snorkling. Karena dengan arus yang deras, kadang kita tidak sadar terbawa arus cukup jauh Tidak jauh dari darmaga Kampung Arborek, ada sekelompok wisatawan asing dengan perlengkapan diving akan melakukan diving. Beberapa lainnya ikut snorkling di sekitar tempat kami berlabuh.

Darmaga Raja Ampat Dive Lodge

Darmaga Raja Ampat Dive Lodge

Site berikutnya yang kami kunjungi adalah Raja Ampat Dive Lodge. Meskipun cottage ini private, tapi kami ternyata boleh menikmati pantainya yang cantik. Cottage ini cukup mewah, kata guide kami kebanyakan yang nginap di sini turis-turis dari Eropa. Menginap semalam pun budgetnya bisa jutaan. Kalo turis lokal sih kayaknya masih sayang yaa menghabiskan budget menginap sampai jutaan hehe. Di cottage ini kami juga melihat dengan jelas banyak terumbu karang di bawah bangunan darmaga karena jernihnya airnya. Masuk ke dalam area cottage kami sudah di sambut oleh pantai yang pasirnya putih dan halus. Matahari yang terik tidak menghalangi kami bermain di pantai. Its time for sun bathing. Yeeay!

P1090281

I got this coral picture under the dramaga.

I got this coral picture under the dramaga.

P1090280

Sea, sun, and sand.

P1090271

Beranjak dari Dive Lodge Raja Ampat kami menuju ke area dekat homestay yaitu Desa Yenbuba. Desa Yenbuba ini masih masuk dalam Pulau Manswar cuma pulaunya berseberangan. Desa Yenbuba berada di pulau kecil sebelah pulau Manswar besar. Di siang hari saat air laut sedang surut, pulau ini dipisahkan oleh hamparan pasir serupa pasir timbul. Jadi kami berjalan menuju Desa Yenbuba mengarungi (duileh “mengarungi” hahaha) lautan yang dalamnya cuma sebetis. Sesampai di ujung pulau, saya pun memberanikan diri snorkling. Di sini arusnya jauh lebih tenang dibanding Kampung Arborek. Di kawal uncle Arnold (guide kami) saya mulai snorkling di tempat yang cetek (cuma sepinggang airnya). Pertama kali nyobain snorkling daaan mempraktekkan latihan berenang selama ini hahaha. What i can say. It is superb amazing view that i ever see. Tapi makin ke sana kok yaa makin serem yaa karena perairannya makin dalam. Buuut, i encourage my self. I have to go through this fear. This is the momentum. Jadi di tengah deg-deg serr takut kelelep, baca jampi-jampi dalam hati, daan sekaligus senang bisa berenang dengan ikan-ikan warna-warni, lihat terumbu karang yang beraneka ragam bentuk dan warna. Snorkling sekitar setengah jam, saya akhirnya berhasil mencapai tiang darmaga pulau sebelah. Fiuhhh!. But after that, sama sekali gak berani ngelepasin pegangan tangan dari tiang karena airnya jadi semakiin dalaaaam dan dalaaaam.

P1090321

Yang lain renang, eike mah pegangan aja di tiang. Takut nyungsep T.T

Yang lain renang, eike mah pegangan aja di tiang. Takut nyungsep T.T

Temen-temen yang lain sih masih tetap “molo” bersama. Saya memilih diam sambil pegangan di tiang, menunggu boat kami merapat di darmaga sambil sesekali nyemplungin kepala buat ngeliat pemandangan bawah lautnya. Selesai snorkling, kami kembali ke atas kapal. Banyak anak kecil yang menonton kami berenang. Mereka diminta Uncle Arnold mengambilkan buah-buahan. Dan dapatlah kami sekantong besar mangga hutan.

Next destination sekaligus, last destination kami kembali menuju Pasir Timbul. Bermain air dan foto-foto bersama. Tidak banyak waktu yang kami habiskan di Pasir Timbul kali ini, karena cuaca tiba-tiba berubah mendung. Jadi kami putuskan untuk kembali ke homestay. Rencana awal, malam ini kami masih menginap di Raja Ampat. Tapi karena sebagian besar lokasi menarik sudah selesai kami kunjungi hari ini, dalam rangka mengirit ongkos kami memutuskan untuk pulang kembali ke Waisai sore itu juga dan menginap di Waisai semalam. Dan akan menyeberang kembali dengan kapal cepat keesokan harinya. Perjalanan kami ditutup dengan sunset manis di tengah laut.

P1090350

As resume of my trip story at Raja Ampat i write some points that maybe useful for whoever reads this post :

  1. Kami ke Sorong menggunakan maskapai Garuda Indonesia (bukan karena gaya, tapi karna waktu memesan maskapai itu malah yang menyediakan lower fare dibanding maskapai lainnya) dengan memesan di Traveloka.
  2. Penerbangan ke Sorong biasanya transit di Manado, kebetulan pesawat kami transit malam dan berangkat lagi subuh hari sehingga kalau punya keluarga di Manado akan lebih baik menghubungi mereka untuk sekedar numpang istirahat atau mutar-mutar kota Manado sembali menunggu penerbangan. Jika tidak, di bandara ada minimart yang buka 24 jam. Tinggal belanja di sana dan ngomong ke mas-nya mau numpang transit. Its better if you have travelmate.
  3. What i regret most is, i didn’t prepare any documentation tools for these trip. Gak bawa kamera yang agak kece (ex. DSLR or Go Pro or underwater camera) bahkan gak kepikiran buat nyari kondom untuk kamera digital yang dibawa. So i can’t give you all the beauty of the scnenes that i saw there.
  4. Walaupun disediakan alat snorkle, tapi karena alatnya terbatas sebaiknya dari awal dibicarakan kepada penyedia layanan untuk menyediakan snorkle sesuai jumlah orang atau better you bring your own snorkle.
  5. Harusnya mah ke sini udah pinter diving T.T. Because you know, you’re gonna miss much more amazing underwater view.
  6. All money i need to have this trip (exclude airplane ticket and cost i spent in Sorong) approximately IDR 1.300.000. YES. It very very cheap if you compare with another travel agent which budget at least IDR 2.500.000 per person. We spent IDR 5.000.000 for the speedboat while other normally get IDR 8.000.000. (that is what a friend of friend’s is for), we spent IDR 400.000 per person for the homestay while other normally get IDR 500.000. We didn’t spent anything in Waisai because we spent the night at our friend’s friend (who also own the boat 😀 )

For me this is like unreal trip. I have wish for such a long time to have this chance. Daan as usual, all you need to do is ask and just wait for the answer.

Seperti, membaca Partikel yang akhirnya membawa saya ke Taman Nasional Tanjung Puting. Memimpikan ke Bali dan akhirnya pekerjaan membawa saya ke Bali. Ingin ke Komodo dan akhirnya ada juga kesempatan main ke Taman Nasional Komodo. All begin with the WISH and BELIEF.

So, keep dream on. There’s so much place wait to be visit.

Advertisements

Tuhan Bekerja, dan Saya pun Di Raja Ampat (Part 1)

Every single desire can lead to dream and every single dream has possibility to become reality

Santosh Kalwar

Pernah menginginkan sesuatu sampai membayangkan kalo kamu sudah  memperolehnya ? Yes, I did. I do. Insipirasi mengunjungi tempat biasanya berasal dari buku yang terbaca, film yang tertonton, atau dari kawan yang berkisah. Raja Ampat.. populer sejak bertahun-tahun yang lalu. Jadi semacam icon wisata di sisi timur Indonesia yang gak semua orang berkesempatan mengunjungi karena memang ongkos berkunjung ke sana gak sedikit. Tapi gak apa-apalah yaa bermimpi sepenuh hati suatu hari bisa mengunjungi Raja Ampat. Masa ngimpi yang gratisan aja gak berani heheh. Entah bagaimana skenarionya. Kali ini pun, seperti biasa, Tuhan bekerja 🙂

Postingan ini kalo ibaratnya makanan kayaknya udah basi ya. Berhubung ke Raja Ampat-nya sudah dari Januari kemarin. Ceritanya ini nyambung sama cerita petualangan kami di Sorong di postingan sini.

Setelah menghabiskan beberapa hari di Sorong yang panas hehe. Akhirnya pada suatu sore, temen Mbak Wita datang dan kami membicarakan persiapan berangkat ke Raja Ampat. So excited.

 Hari Rabu, 21 Januari 2015 kami berangkat dari Kompleks RRI menuju ke Pelabuhan Rakyat Kota Sorong. Jaraknya tidak jauh, sekitar 15 menit ditempuh dengan mobil. Rombongan kami ada ada 9 orang. Kami ber-7 dan kawan Mbak Wita ada 2 orang. Sesampai di pelabuhan, kami segera menuju ke loket tiket untuk membeli tiket feri yang akan membawa kami menyeberang dari Kota Sorong menuju Kabupaten Raja Ampat. Tiket feri nya seharga IDR 75.000. Setelah membeli tiket kami menuju kapal feri yang akan membawa kami menuju Raja Ampat. Kami menggunakan kapal feri Belibis, dan ternyata oh ternyata kabarnya yang jadi Manajer kapal tersebut adalah mantan Kepala Sekolah saya di SMP. Dunia sempit sekali hehehe.

P1080890

Penampakan Pelabuhan Rakyat Kota Sorong

Penampakan Pelabuhan Rakyat Kota Sorong

Kapal feri ini cukup nyaman dan bersih. Kami menghabiskan 2 jam perjalanan untuk menyebrang ke Kabupaten Raja Ampat. Di kapal, kami banyak menghabiskan waktu di dek. Menikmati hembusan angin laut dan pemandangan laut di sekeliling kami. Dan tentu saja, berfoto tak boleh ketinggalan.

Really enjoy the trip

Really enjoy the trip

Kondisi di dalam kapal feri

Kondisi di dalam kapal feri

Rombongan Sirkus ke Raja Ampat

Rombongan Sirkus ke Raja Ampat

Aisyah dan Fahri

Aisyah dan Fahri

P1080920

Pasangan pengantin baru yang bulan madu-nya harus di kawal.

Pasangan pengantin baru yang bulan madu-nya harus di kawal.

Setelah 2 jam perjalanan, kami tiba di darmaga Kabupaten Raja Ampat. Sesampai di darmaga kami menyempatkan diri foto-foto (again, its all about foto-foto). Tidak lama kemudian, hujan turun deras dan kami menuju ke bangunan darmaga untuk berteduh. Bangunan darmaga ini semacam bangunan terminal, tempat orang-orang transit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke wilayah Raja Ampat yang dituju. Di sini terdapat semacam pusat informasi yang menyediakan informasi terkait lokasi-lokasi wisata di gugusan Raja Ampat. Tidak banyak yang menggunakan saya rasa, karena kebanyakan orang yang nge-trip ke Raja Ampat ini sudah berhubungan langsung dengan guide/travel agent yang menyediakan trip untuk Raja Ampat. Kami menunggu hujan mereda, setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke Mansuar, tempat kami akan menginap sampai besok. Perjalanan ke Mansuar dari Waisai (ibu kota Kabupaten Raja Ampat) kami tempuh dengan speedboat kapasitas 12 orang. Dalam waktu normal, kami bisa mencapai Mansuar hanya setengah jam. Tapi karena satu mesin speedboat kami mati, kami menempuh Mansuar hampir 1 jam.

First site kami temukan setelah sekitar 30 menit melintasi lautan. Ada satu hamparan pasir di tengah-tengah laut, masyarakat menyebutnya Pasir Timbul. Pasirnya benar-benar bersih. Begitu juga air lautnya. That’s very beautiful. Di tengah terik matahari pun kami bersedia turun dan mulai bermain air. Saya bahkan sempat bertemu ubur-ubur diperairannya.

Such a beautiful Indonesia :)

Such a beautiful Indonesia 🙂

See, i got this jellyfish picture :)

See, i got this jellyfish picture 🙂

P1080997

We had fun!

We had fun!

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di Pasir Timbul untuk saat itu. Karena hari sudah mulai beranjak sore dan kami harus bergegas menuju ke home stay. Kami melanjutkan perjalanan kembali, menikmati sisa-sisa pemandangan laut dengan pulau-pulau di kiri kanan-nya. Pulau-pulau tersebut sebagian besar telah dipenuhi oleh cottage-cottage untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung-pengunjungnya. Setelah masuk ke gugusan Pulau Mansuar, letak home stay kami… ada area yang dijadikan pemakaman umum untuk masyarakat sekitar. Yang disayangkan sebenarnya, kebanyakan cottage merupakan investasi dari investor-investor besar dan dari luar negeri. Masyarakat mendapat bagian sebagai pekerja cottage atau menjual souvenir-souvenir atau menjadi guide/boat driver.

Kami tiba di homestay kami sekitar pukul 16.00 WIT. Membereskan barang-barang dan ternyata makanan untuk makan siang sudah disediakan. Enaknya di Raja Ampat itu, apapun makanannya selalu terasa enak. Tiap kali makan kami akan disajikan lauk ikan besar dan sayur.

a very late lunch!

a very late lunch!

 Sore itu, kami mencicipi segarnya pantai dan matahari Raja Ampat untuk pertama kali. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kami ingkari 🙂 .

Berjalan ke arah kiri homestay, kami menemukan beberapa homestay yang dihuni oleh turis mancanegara. Berenang dan bermain air beberapa saat kami kembali ke homestay, bersih-bersih dan setelah itu nongkrong di depan homestay menikmati sunset. Btw, ini pertama kalinya saya memberanikan diri berenang di pantai. Sejak kecil saya punya phobia air dalam karena pernah tenggelam di sungai. Saya gak akan berani masuk ke air yang ketinggiannya melebihi badan saya. But, this beautiful place just like a magic, bring the courage to do what you think you can’t do. 🙂

 P1090084 Setelah berenang kami bersih-bersih dan menghabiskan sore menuju malam menikmati sunset yang indah seperti di atas ini.

Malam hari di tempat ini sangat tenang. Suara deburan ombak diselingi suara serangga-serangga malam. Karena tempatnya minim cahaya, bintang-bintang menjadi sangat terang. Saya dan beberapa teman mengobrol di bale-bale depan homestay. Kami menyaksikan air surut dan salah satu teman dengan berani turun ke pantai bermain air. Dia menemukan banyak udang-udangan, ikan bahkan ada ular hiii.P1090093Pukul 22.00 WIT kami masuk ke kamar dan beristirahat. Disini, listrik cuma menyala dari pukul 05.00 hingga pukul 24.00 WIT. Waktu listrik menyala dimaksimalkan untuk men-charge berbagai macam alat elektronik untuk bekal jalan-jalan esok hari.

Setiap kamar di homestay ini berisi 2 kasur yang masing-masing dilengkapi dengan kelambu untuk menghalau nyamuk. Karena wilayah ini masih endemik malaria. So when you come here, you better prepare anti-mosquito lotion etc.

Next part… saya akan bercerita hari ke-2 kami di Raja Ampat dan tempat apa saja yang kami kunjungi seharian penuh. 🙂

Kalo punya mimpi traveling… kota mana yang akan kamu tuju ? #1 Paris, Perancis

paris_view Why Paris?

Dulu sempet kepikiran, kalo lagi patah hati mau melarikan diri ke Paris aja.

Kalo ditanya kenapa? I dont know the real answer. Jusa saying Paris, its awesome already for me 🙂

Mungkin kilau Eiffel Tower di pilem Eiffel I’m in Love yang ku tonton pas jaman SMA jadi latar belakang. Wish that some day i’ll walk to enjoy the night view. Paris feels romantic. Di kamar, aku punya poster peta perjalanan Paris, warisan dari tuan kamar sebelum aku. Kadang kupikir, mungkin ini pertanda suatu hari nanti aku akan benar-benar main ke Paris.

Duduk manis menikmati sore di Champ de Mars.. menikmati kerlip lampu Eiffel di malam hari.

Menikmati arsitektur Arc de Triompe dan menyusuri Place de la Concorde.

Sok serius mengamati lukisan Mona Lisa di Museum Louvre.

Berburu barang vintage di Flea Market.

teruuus dinner romantis sambil ngikutin Seine Cruise.

aaak hope it become real very soon!

Touched Down Tanjung Puting National Park

Ada yang sudah pernah membaca Partikel-nya Dee Lestari ?

Well, mungkin akan ada yang bertanya, apa hubungan Partikel-nya Dee Lestari dengan postingan yang tertunda lama ini.

I like to read novel, a lot.

Membaca novel bisa membawa saya menjelajah kemanapun tulisan-tulisan itu mengalir.

Partikel salah satu novel favorit saya (most of Dee’s writing are my favourites 😀 ).

Dalam beberapa halaman buku tersebut, saya dibawa terjun ke hutan belantara Kalimantan, tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting. Setelah membaca halaman demi halaman tentang Tanjung Puting, dalam hati saya berkata : Suatu hari nanti, saya pasti bisa ke sana..!

Mungkin seisi semesta saat itu sedang berkonspirasi dengan manisnya sehingga bulan November tahun 2012 kemarin saya berkesempatan berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Free! and I was charged! *grinning*

Oke, jadi ceritanya ke Tanjung Puting waktu itu adalah semacam perjalanan dinas untuk kegiatan salah satu instansi pemerintah.

Hari itu, untuk menuju ke Tanjung Puting, kami harus menempuh perjalanan dari Jakarta (Soekarno Hatta) – Pangkalan Bun (Iskandar) dengan pesawat Trigana Air selama kurang lebih 1 jam 10 menit.

Hari pertama dan kedua perjalanan kami habiskan di Pangkalan Bun, karena data-data yang dibutuhkan harus diakses di kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting.

Pangkalan Bun sendiri adalah ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Kota kecil ini merupakan kota yang cukup vital di Kalimantan Tengah. Memiliki bandar udara (Badar Udara Iskandar) dan pelabuhan (Pelabuhan Kumai) sendiri di dalam kotanya.

Di kota Pangkalan Bun, kita tetap bisa menikmati wisata yang menarik seperti serangkaian wisata kuliner dan berkunjung ke istana kuning.

Makanan yang paling saya senangi saat di Pangkalan Bun adalah ikan patin bakar. Ikan patin ini berbeda dengan ikan patin yang biasa diternakkan. Ikan patin-nya dibeli dari nelayan-nelayan sugai. Rasanya benar-benar gurih. Sebagai pelengkap, ikan patin bakar biasanya disajikan dengan sambel mangga dan sambel terasi ditambah lalapan berupa daun singkong rebus, mentimun dan terong bakar.

Ikan Patin Bakar

Istana Kuning adalah salah satu objek wisata sejarah dan budaya di kota Pangkalan Bun.

Namanya Istana Kuning tapi dari corak bangunannya sama sekali tidak di dominasi oleh warna kuning. Istana ini sebenarnya bernama Istana Indra Sari Keraton Lawang Kuning Bukit Indra Kencana. Panjang banget kan..!

Mungkin biar lebih komunikatif, pemerintah kemudian menamakan istana ini sebagai Istana Kuning, dan perlu diingat bahwa kuning merupakan warna keramat bagi masyarakat Kotawaringin Barat.

Dari cerita kerabat kerajaan yang kebetulan menjadi pemandu kami hari itu, Istana Kuning ini dibangun pada tahun 1806 oleh Sultan Imanuddin di Kutaringin Baru, Pangkalan Bu’un.Istana yang asli pada tahun 1986 terbakar sehingga kemudian dilakukan pemugaran besar-besaran sampai terbentuk Istana Kuning yang saat ini bisa dinikmati pengunjung.

Masuk ke kompleks Istana Kuning, kita bisa melihat dua bangunan yang seolah terpisah tetapi sebenarnya memiliki pintu penghubung antara satu dengan yang lainnya. Bangunannya terdiri atas aula, kamar Raja, dan dapur. Di aula biasa diadakan acara pernikahan, penampilan tarian atau teater dan berbagai acara rakyat lainnya. Bergeser ke kanan, kita akan menemukan ruangan yang penuh dengan lukisan raja-raja yang pernah memerintah Istana Kuning, manekin sepasang pengantin, dan beberapa artefak peninggalan kerajaan seperti guci, perlengkapan makan, dan benda-benda dari perunggu. Ada juga kereta kencana dan senjata kerajaan.

Aula dan Selasar Menuju Kamar Raja
Kompleks Istana Kuning
Manekin Pengantin
Kereta Kencana
Lukisan Raja-raja

Di bawah kompleks istana ini, kita bisa menikmati pemandangan kota Pangkalan Bun dari atas. Kalau diperhatikan, dan dari cerita pemandu kami, bangunan di Pangkalan Bun terdiri dari beberapa jenis bangunan. Bangunan tersebut mencirikan suku yang mendiami Pangkalan Bun seperti penduduk asli, penduduk Tionghoa, dan penduduk Jawa.

 
Pangkalan Bun

Okay, lets meet the main topic… (topik pembukanya kepanjangan -___-)

So, i would like to tell ya some great experiences with Tanjung Puting National Park…

Here we go…

Jadi, untuk menuju TNTP (Taman Nasional Tanjung Puting) kita harus berkendara menuju Pelabuhan Kumai kurang lebih 30 menit. Pelabuhan Kumai ini pelabuhan yang cukup ramai. Di sekitarnya banyak ditemukan bangunan-bangunan tinggi semacam ruko yang ternyata kandang eh maksudnya sarang burung walet.

Dari Pelabuhan Kumai, kami menggunakan speedboat. Lebih afdol sebenarnya make klotok. Jadi klotok itu semacam kapal berukuran hmmm.. sedeng lah yaa yang biasa dipake turis-turis menjelajah sungai-sungai menuju Tanjung Puting. Semacam perahu yang di pilem Anaconda itu loh…

Klotok

Paket traveling dengan klotok itu bisa memakan waktu 3 hari. Banyak turis mancanegara yang sangat menikmati menggunakan fasilitas klotok ini. Rate price-nya sih sekitar IDR 2,7 – 4 juta. Tergantung mau berapa lama dan bagaimana pelayanannya. Well, karena saya makenya gratisan, jadi dikasi speedboat pun sudah Alhamdulillah. Kapan-kapanlah menikmati melancong pake klotoknya. Hehehe…

Perjalanan menggunakan speedboat memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke Camp Lakey. Tetapi karena pake mampir-mampir untuk ketemu masyarakat di Desa Sekonyer jadi waktu tempuhnya lebih dari itu. Saya melintasi ekosistem mangrove yang ada disepanjang sungai Sekonyer. Sayang tapi airnya coklat. Kata bapak petugas, itu karena di atas TNTP ada pertambangan, jadi air yang mengalir ke Sungai Sekonyer ini jadi keruh. Vegetasi yang bersentuhan langsung dengan air pun nampak tidak sehat  Hmm, saya jadi inget salah satu scene yang saya pernah baca di Partikel. Tentang air sungai yang coklat di satu sisi sungai dan hitam khas rawa di sisi sungai lainnya. Saat melewati sungai yang di maksud (pengkolan menuju Camp Lakey), miris rasanya. Betapa manusia itu bisa sangat merusak apa yang sudah diberikan Tuhan untuk dia.

See that 2 tone colours..! 😦

Okee, setelah melewati pengkolan tersebut. Aliran sungai kemudian menyempit, disisi ini hutannya beneran berasaaa. Kiri kanan yang dilihat pohon semua, dengan air rawa yang bisa dipake ngaca, tapi jangan berani-berani nyelupin tangan ke air, karena kamu gak akan pernah tau di dalam air itu ada apaan. Bisa jadi udah ada bu’aya yang lagi mangap-mangap nunggu dikasi makan. Hehehe…

Beberapa saat melewati aliran ini, kami tiba-tiba dikejutkan oleh makhluk yang tiba-tiba juga nyemplung ke air. Ternyata ohh ternyata itu adalah seekor bekantan. Jadi, kebiasaan primata-primata disana kalo lagi pengen nyebrang, biasanya nunggu ada kelotok atau speedboat, katanya sih kelotok atau speedboat itu bisa menghalau buaya yang biasa nongkrong tepi-tepi sungai untuk bersembunyi, jadi si bekantan dkk yang lewat bisa dengan aman menyebrang tanpa takut diterkam.

Nah, gak berapa lama kemudian kami tiba di Camp Lakey. Menambatkan speedboat di darmaga kemudian meniti dermaga kayu menuju ke dalam. Saat itu salah satu bangunan di Camp Lakey sedang direnovasi jadi banyak bapak-bapak pekerja yang berseliweran. Kami kemudian dipandu jalan-jalan oleh mas-mas muda yang bertugas di Camp Lakey. Jadi, di Camp Lakey ini, orang-orang utan dibiarkan bebas berkeliaran dan berinteraksi dengan manusia. Di sini, ada bangunan pusat informasi orang utan, di dalamnya kita bisa melihat foto-foto orang utan dan turunan-turunannya yang ada atau pernah lahir di Camp Lakey. Uniknya, nama anak-anak orang utan ternyata mengikuti nama indukannya. Misalnya indukannya diberi nama Siswoyo maka semua turunannya (anak sampe cucu sampe cicit) akan diberi nama dengan huruf awal S. Seleb orang utan di tempat ini ada Tom si pejantan dan Siswi si betina. Tapi sepertinya saat berkunjung ke sana, belum berjodoh bertemu Tom dan Siswi. Kami hanya sempat bertemu dengan bekas makanannya berupa kulit pisang yang berserakan di jalanan (sedihhnyaaa…. T.T ). Ternyata, waktu kedatangan kami itu bertepatan dengan musim berbuah buah-buahan di hutan, jadi mereka lebih memilih menjelajah ke dalam hutan ketimbang nongkrong di sekitar basecamp :'((. Salah waktu berkunjung rupanya… Alih-alih nontonin orang utan, yang ketemu malah babi hutan yang ternyata dengan bebasnya berkeliaran juga di daerah ini..ada juga si Macaca fascicularis yang asik loncat di antara semak-semak :))

Nah, sebelum lupa. Kepopuleran Tanjung Puting tidak bisa dilepaskan dari seorang wanita pecinta orang utan yang sudah berpuluh-puluh tahun berinteraksi dengan orang utan di Tanjung Puting, Prof. Birute namanya. Orang-orang di TN sih memanggil dia ibu Birute. Ibu Birute ini bagian dari Orang Utan Foundation atau biasa disebut OFI. Jadi, OFI ini semacam NGO yang bekerjasama dengan pemerintah mengurusi orang utan di TNTP.

Narsis di depan papan resort pun tak terlewatkan ;D
Darmaga Camp Lakey
Tempat si Macaca berkeliaran
Salah satu jalan di basecamp Camp Lakey
Silsilah keluarga orang utan di buat seperti ini :))

Karena hasil celingak-celinguknya nihil di Camp Lakey, kami beralih tujuan ke Tanjung Harapan. Tanjung Harapan ini salah satu pos yang juga menjadi favorit wisatawan. Di pos ini, kita bisa melihat dan berinteraksi secara langsung juga dengan orang utan saat jam pemberian makan. Kami tiba di Tanjung Harapan sekitar pukul 13.00, makan siang kemudian istirahat sejenak. Selain kami, sudah ada beberapa klotok yang bersandar dan beristirahat menanti waktu pemberian makan untuk orang utan. Nah, jadwal ngasih makan orang utan di Tanjung Harapan ini biasanya sekitar pukul 14.00, wisatawan akan berbondong-bondong menuju tempat makan orang utan. Dua orang petugas akan datang dengan membawa keranjang makanan biasanya pisang dan umbi-umbian. Saat waktu makan tiba, kami pun beranjak ke tempat makan orang utan. Ada cara khas untuk memanggil orang utan berkumpul. Mungkin karena sudah terbiasa, diwaktu tersebut, saat mendengar panggilan. Beberapa orang utan pun kemudian satu per satu memasuki tempat makan. Mereka datang, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Yang pertama terlihat seorang eh seekor pejantan dengan tubuh besar dan pelipis yang lebar berayun dari satu pohon ke pohon yang lain. Kemudian disusul dengan betina yang berayun sambil menggendong bayi orang utan. Dari sisi lain datang juga seekor pejantan. Saat makan, pejantan yang lebih kuat atau lebih berkuasa akan dibiarkan makan terlebih dahulu oleh orang utan pejantan atau betina lainnya. Jika tidak, pejantan yang kuat itu bisa marah dan berkelahi dengan pejantan yang lebih lemah. Jadi mereka pun cari aman. Setelah menilai pejantan kuat tadi sudah rada kenyang, baru deh si ibu orang utan and the baby dan pejantan lain ikut menikmati makanan yang sudah disajikan. Ada juga orang utan yang tidak mau ke meja makan jadi dia di beri makan di bawah pohon..

Daya tarik ini yang banyak sekali diminati oleh wisatawan, khususnya wisatawan asing. Mereka dengan bekal kamera yang lensanya panjang-panjang akan mengabadikan segala momen kedatangan, makan dan interaksi orang utan itu.

These moments were so alive :))

Untuk pertama kalinya saya melihat orang utan di luar kebun binatang dan sirkus.

As ending, we should be proud for being a part of Indonesia.

Salah satu cara bersyukurnya, seharusnya kita lebih menyayangi lingkungan di sekitar kita.

Lets save Orangutan :))