Lebaran : a point of view of the parents affection.

Entah ini lebaran Idul Adha yang keberapa yang saya lewatkan di kota ini. Well, padahal lebaran identik dengan kumpul-kumpul dengan keluarga besar dan makan-makan besar. Kalau dihitung-hitung, dari tahun 2007, saya tidak pernah menyempatkan diri untuk pulang lebaran Idul Adha bersama Mamak dan Bapak. Entahlah, meskipun sama-sama lebaran, Idul Fitri rasanya lebih afdol buat mudik ketimbang lebaran Idul Adha. Yaa, pada kenyataannya saya memang menangkap makna atau mungkin rasa yang berbeda dari semuanya. Tapi satu rasa yang sama, feel lonely for both event.

As today, baru pulang hari Sabtu kemarin dari Jayapura, masih dalam masa-masa mengistirahatkan badan dan pikiran. Kemarin-kemarin sama sekali tidak berasa hawa-hawa lebarannya. Baru terasa sore ini, malam ini, saat takbir mulai berkumandang. Ohh iya, besok lebaran. Hmm, maksudnya beberapa jam lagi. Dan paling sering selama tahun-tahun saya di sini, saya melewatkan shalat Ied, entah karena halangan, karena ketiduran atau karena kedapatan tugas jagain rumah. Hehehe.

Mungkin karena habit yaa, lebaran itu menjadi lebih bermakna saat kita bisa berkumpul bersama keluarga kita. Mungkin Mamak dan Bapak saya salah satu pasang orang tua paling ikhlas sedunia. Bagaimana tidak?. Punya dua pasang putra putri, tapi tak satu pun tinggal di rumah. Di usia mereka yang mendekati senja, semua anak-anaknya memilih tinggal di tempat yang jauh. Saya dan adik saya yang ketiga, sama-sama tinggal di Bogor, adik kedua saya masih di Jogja dan sepertinya sebentar lagi akan nyusul ke Bogor juga, adik saya yang paling bontot, masuk salah satu boarding school di Makassar. Dulu, saya tidak pernah memikirkan perasaan Mamak dan Bapak saya saat saya harus merantau. Mereka tidak akan sepi, masih ada tiga orang yang harus diurus. Tapi kemudian, setelah semua beranjak dewasa dan pergi meninggalkan rumah, ada perasaaan sedih juga. Sedikit rasa bersalah karena meninggalkan. Khawatir karena mereka tidak ada yang menemani.

Kemudian, saya mulai berpikir… Bagaimana nanti ? Saat semua anak-anaknya berkeluarga dan memang memilih tinggal di tempat yang jauh dari mereka. Yaa, bersyukurlah pada anak-anak yang tidak harus dihadapkan pada pilihan seperti ini. Seorang kawan pernah berkomentar, kalau setiap orang tua itu punya waktu dimana mereka memang harus mengikhlaskan anaknya untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Kemudian kawan yang lain mulai menuntut jawaban saat bertanya : nanti bagaimana Bapak sama Ibu kalau kamu harus ikut pasangan kamu dan tinggal di sini ?. Bagaimana kalau mereka sakit ?. Saya agak terhenyak sebenarnya dengan dua statement itu. Statement pertama, kok ya rasa-rasanya seperti menelantarkan orang tua, dan rasa-rasanya menjadi pembenaran untuk keputusan yang sudah saya ambil. Statement kedua, lebih seperti justifikasi : kamu durhaka sekali jadi anak!. Yang kemudian membuat saya berpikir, apa iya saya harus ada di dekat orang tua saya supaya saya dan orang tua saya lebih tenang. Dan itu berarti, apa yang saya jalani di sini harus saya lepaskan dan menjalani proses yang lain di sana ?. But, I believe that my parents wants me happy. That’s what they have been doing for all the time.

Saya mengingat cerita-cerita teman saya yang sudah berkeluarga, dengan latar daerah asal yang berbeda. Sebagai perempuan, kebanyakan mereka akan mengikuti di mana pria-prianya memutuskan untuk berlebaran. Kebanyakan pun, memutuskan berlebaran di tempat si pria. Ada role play lebaran shift-shif-an, tahun ini di rumah si pria, tahun depan di rumah perempuan. Mungkin tergantung negosiasi yang dibumbui rayuan,rajukan, atau adu mulut kecil. Atau mungkin seperti Mamak saya, rasanya jarang sekali kami melewatkan Idul Fitri di rumah Opu (orang tua Mamak), walaupun Puang (ibunya Bapak) sudah meninggal. Mudik biasanya pas hari kedua lebaran, karena jaraknya memang tidak jauh, hanya 3 jam perjalanan. Yaa, that’s their story. Saat membayangkan moment seperti itu, yang terlintas adalah adegan komentar Mamak saya : Iya, tahun ini Riska ndak lebaran di rumah. Di rumah suaminya. Pfft.! Yeah, on the time like that, I believe that my Mamz gonna miss me so, so do my Bapak would. Ternyata ohh ternyata, meskipun lebaran itu event dua kali dalam setahun, banyak hal yang bisa bikin kepikiran. Dan salah satu yang sempat saya bayang-bayangkan before decide to get merried someday.

Dan seiring tulisan ini mengalir, saya kemudian punya cara memandang kasih sayang Mamak dan Bapak saya kepada anak-anaknya. Yaa, lewat moment lebaran ini. Saya tahu, mereka pun pasti sama merasa tidak lengkapnya seperti saya. Tapi saya tahu, dalam keterbatasan anak-anaknya untuk ada di dekat mereka, mereka percaya, hal itu mendekatkan anak-anak mereka kepada kebaikan, kebahagiaan. At least, this would give them some hopes..Harapan bahwa anak-anak mereka, akan bahagia dengan jalannya masing-masing.

Tahun ini, Mamak dan Bapak kesampean rejekinya untuk ibadah haji. Semoga saat kembali ke rumah, keduanya bisa menajdi haji mabrur, menjadi manusia yang senantiasa memanusiakan, menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi. Amin 🙂

I miss you Mamak, Bapak *hug*

Tips biar gak sedih lebaran di perantauan

Hari raya Idul Fitri memang paling afdhol buat moment berkumpul bersama keluarga. Mudik menjadi sebuah fenomena yang berangsur menjadi budaya untuk masyarakat urban kebanyakan di negara ini. Mudik tentu saja selalu menjadi moment yang ditunggu setiap tahunnya.. Banyak motivasi.. Mulai yang bener-bener kangen pengen kumpul bersama keluarga besar sampai ajang show off kesuksesan setelah setahun merantau dan pulang kembali.

Buat saya, mudik itu saat paling pas melepas kangen sama orang tua dan adek-adek saya, kongkow-kongkow bersama sahabat, ketemu keluarga besar sampai yang paling tidak boleh terlewatkan menikmati makanan rumah yang entah kenapa selalu enak sesederhana apa pun masakannya.

Tahun ini, unfotunately.. menjadi tahun ke dua saya tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Rumah yang terbilang jauh karena harus ngerogoh kocek dalem-dalem buat pulang perginya. Ditambah lagi, awal bulan kemarin baru abis mudik di awal ramadhan dan bulan depan harus jadi anak baik karena special request mamak dan bapak mengharuskan saya pulang.

Pertama merasakan lebaran tidak bersama keluarga itu, rasanya sedih. Hanya bisa maaf-maafan via telepon. Untung sekarang sudah ada teknologi canggih bernama handphone. Kalau mesti pake surat, kebayang gak sih buat ngucapin minal aidzin wal faidzin aja mesti nunggu berhari-hari bahkan berminggu. Keburu momentum lebarannya basi. 🙂

Kalo keinget.. pertama kali ituu rasanya sedih sekali. Lebaran harus numpang dikeluarga orang. Saat orang bisa sungkeman langsung ke mamak bapak dan saudara-saudaranya saya cuma bisa mewek. Apalagi pas udah nelpon mamak sama bapak. Gak kukuh nangisnya. Hehehe. Yaa yang pertama-pertama kan emang suka susah.. Setiap orang butuh kalibrasi rasa saya pikir. Tahun ini, tidak berlebaran di rumah bukan menjadi hal yang harus disedihkan lagi. Well, sedih siiih.. Tapi yaa I can bear it all 😀

Tips biar gak terlalu sedih berlebaran di tempat rantau :

  • Jangan sampai lebaran sendirian

Suasana seperti ini itu memancing banget rasa-rasa homesick keluar. Kebayang gak sih lebaran sendirian itu rasa sepinya kayak apa. Pas lagi sholat iya rame, nah pas pulang ke kamar, suasana rumah yang biasanya riuh pas lebaran tapi untuk kita berubah menjadi hening. Gak ada masakan yang masih anget, ketawa-ketiwi ledek-ledekan atau tangis-tangis haru penghapus dosa pas sungkeman sama orang tua. So don’t dare do this for lebaran day. Usahain aja punya temen walopun sebiji. Ikut kumpul-kumpul sama teman perantauan yang juga gak berkesempatan pulang. Seenggaknya, gak sepi-sepi amat lah hidup pas lagi lebaran.

  • Pikirkan mau masak apaan

Nah, lebaran kan identik banget tuh sama yang namanya makanan melimpah ruah. Daripada abis pulang sholat ied cuman bisa cengo’ aja. Mending sebelum lebaran sediain resep-resep yang sekiranya menggugah selera. Kalo saya sih, karena memang senang nyoba-nyoba masak dan makan,  sebelum lebaran saya udah merencanakan mau masak apa aja. Dan mostly pilihan masak saya adalah masakan yang biasa ada di rumah pas hari raya. Misalnya masak kari ayam, ayam goreng bumbu kecap, coto ato konro *oke dua yang dibelakang belum pernah dipraktekkan sama skali* dan gak lupa menyediakan ketupat kalo sempet beli di pasar. Heheh.

  • Sedia logistik dan cemilan

Lebaran di kosan, apalagi untuk daerah kampus bisa dipastikan semua sumber makanan akan tertutup pas lebaran. Jadi, sebelum lebaran tiba ada baiknya menjaga semua stok, makanan khususnya tetap tersedia di kamar. Mi instant sama telor kayaknya salah satu barang yang wajib nyetok tidak lupa mengecek tabung gas biar gak kehabisan pas lagi masak. Gak kebayang kan kalo udah H+2 ato 3 makanan hari lebaran udah pada basi dan buat makan beneran mesti naik angkot dua kali sampai ke kota *well ini ceritanya lagi ada di daerah kampus IPB Dramaga nun jauh dari kota :p *.

  • The most important thing : Don’t take it too serious

Apa yang kita rasa kan sebenarnya semua berasal dari pikiran kan yaa. Jadi, saat ada moment gak bisa lebaran sama keluarga. Yaa just take it easy. Keluarga itu tempatnya di hati. Mau jauh mau deket yaa kasih sayangnya akan tetap nyampai. Menurut saya sih begitu. Sebelum lo minta maaf, pintu maaf udah terbuka lamaaa sebelum itu. Selain itu, saya pikir akan selalu ada moment seperti ini, entah lo yang ninggalin keluarga atau lo yang ditinggal keluarga saat lebaran. Ada moment di mana, lo gak bisa di tiap tahunnya merasakan lebaran dengan orang tua lo karena tahun itu giliran lebaran di rumah mertua. Begitu juga sebaliknya.

  • The last : Keep praying

Tetaplah berdoa, semoga rejeki dalam bentuk pulang lebaran tahun-tahun berikutnya lancar. Jadi bisa tetap merasakan lebaran di rumah. Semoga tahun-tahun berikutnya tiket pesawat, bus dan kereta api gak makin mahal. Semoga buat masak coto dan konro bahan-bahannya juga gak makin mahal. Yaak! Semoga kita semua bahagia apapun kondisinya. Ameeen!

Pffttt! Dan entah kenapa pas nulis posting ini tiba-tiba ada aroma sop konro yang masih panas *oke ini halusinasinya sudah berlebihan*

Jadiii… manusia-manusia yang tidak berkesempatan mudik, selamat berlebaraaan. Mohon maaf lahir batin 🙂