Tuhan Bekerja, dan Saya pun Di Raja Ampat (Part 1)

Every single desire can lead to dream and every single dream has possibility to become reality

Santosh Kalwar

Pernah menginginkan sesuatu sampai membayangkan kalo kamu sudah  memperolehnya ? Yes, I did. I do. Insipirasi mengunjungi tempat biasanya berasal dari buku yang terbaca, film yang tertonton, atau dari kawan yang berkisah. Raja Ampat.. populer sejak bertahun-tahun yang lalu. Jadi semacam icon wisata di sisi timur Indonesia yang gak semua orang berkesempatan mengunjungi karena memang ongkos berkunjung ke sana gak sedikit. Tapi gak apa-apalah yaa bermimpi sepenuh hati suatu hari bisa mengunjungi Raja Ampat. Masa ngimpi yang gratisan aja gak berani heheh. Entah bagaimana skenarionya. Kali ini pun, seperti biasa, Tuhan bekerja 🙂

Postingan ini kalo ibaratnya makanan kayaknya udah basi ya. Berhubung ke Raja Ampat-nya sudah dari Januari kemarin. Ceritanya ini nyambung sama cerita petualangan kami di Sorong di postingan sini.

Setelah menghabiskan beberapa hari di Sorong yang panas hehe. Akhirnya pada suatu sore, temen Mbak Wita datang dan kami membicarakan persiapan berangkat ke Raja Ampat. So excited.

 Hari Rabu, 21 Januari 2015 kami berangkat dari Kompleks RRI menuju ke Pelabuhan Rakyat Kota Sorong. Jaraknya tidak jauh, sekitar 15 menit ditempuh dengan mobil. Rombongan kami ada ada 9 orang. Kami ber-7 dan kawan Mbak Wita ada 2 orang. Sesampai di pelabuhan, kami segera menuju ke loket tiket untuk membeli tiket feri yang akan membawa kami menyeberang dari Kota Sorong menuju Kabupaten Raja Ampat. Tiket feri nya seharga IDR 75.000. Setelah membeli tiket kami menuju kapal feri yang akan membawa kami menuju Raja Ampat. Kami menggunakan kapal feri Belibis, dan ternyata oh ternyata kabarnya yang jadi Manajer kapal tersebut adalah mantan Kepala Sekolah saya di SMP. Dunia sempit sekali hehehe.

P1080890

Penampakan Pelabuhan Rakyat Kota Sorong

Penampakan Pelabuhan Rakyat Kota Sorong

Kapal feri ini cukup nyaman dan bersih. Kami menghabiskan 2 jam perjalanan untuk menyebrang ke Kabupaten Raja Ampat. Di kapal, kami banyak menghabiskan waktu di dek. Menikmati hembusan angin laut dan pemandangan laut di sekeliling kami. Dan tentu saja, berfoto tak boleh ketinggalan.

Really enjoy the trip

Really enjoy the trip

Kondisi di dalam kapal feri

Kondisi di dalam kapal feri

Rombongan Sirkus ke Raja Ampat

Rombongan Sirkus ke Raja Ampat

Aisyah dan Fahri

Aisyah dan Fahri

P1080920

Pasangan pengantin baru yang bulan madu-nya harus di kawal.

Pasangan pengantin baru yang bulan madu-nya harus di kawal.

Setelah 2 jam perjalanan, kami tiba di darmaga Kabupaten Raja Ampat. Sesampai di darmaga kami menyempatkan diri foto-foto (again, its all about foto-foto). Tidak lama kemudian, hujan turun deras dan kami menuju ke bangunan darmaga untuk berteduh. Bangunan darmaga ini semacam bangunan terminal, tempat orang-orang transit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke wilayah Raja Ampat yang dituju. Di sini terdapat semacam pusat informasi yang menyediakan informasi terkait lokasi-lokasi wisata di gugusan Raja Ampat. Tidak banyak yang menggunakan saya rasa, karena kebanyakan orang yang nge-trip ke Raja Ampat ini sudah berhubungan langsung dengan guide/travel agent yang menyediakan trip untuk Raja Ampat. Kami menunggu hujan mereda, setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke Mansuar, tempat kami akan menginap sampai besok. Perjalanan ke Mansuar dari Waisai (ibu kota Kabupaten Raja Ampat) kami tempuh dengan speedboat kapasitas 12 orang. Dalam waktu normal, kami bisa mencapai Mansuar hanya setengah jam. Tapi karena satu mesin speedboat kami mati, kami menempuh Mansuar hampir 1 jam.

First site kami temukan setelah sekitar 30 menit melintasi lautan. Ada satu hamparan pasir di tengah-tengah laut, masyarakat menyebutnya Pasir Timbul. Pasirnya benar-benar bersih. Begitu juga air lautnya. That’s very beautiful. Di tengah terik matahari pun kami bersedia turun dan mulai bermain air. Saya bahkan sempat bertemu ubur-ubur diperairannya.

Such a beautiful Indonesia :)

Such a beautiful Indonesia 🙂

See, i got this jellyfish picture :)

See, i got this jellyfish picture 🙂

P1080997

We had fun!

We had fun!

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di Pasir Timbul untuk saat itu. Karena hari sudah mulai beranjak sore dan kami harus bergegas menuju ke home stay. Kami melanjutkan perjalanan kembali, menikmati sisa-sisa pemandangan laut dengan pulau-pulau di kiri kanan-nya. Pulau-pulau tersebut sebagian besar telah dipenuhi oleh cottage-cottage untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung-pengunjungnya. Setelah masuk ke gugusan Pulau Mansuar, letak home stay kami… ada area yang dijadikan pemakaman umum untuk masyarakat sekitar. Yang disayangkan sebenarnya, kebanyakan cottage merupakan investasi dari investor-investor besar dan dari luar negeri. Masyarakat mendapat bagian sebagai pekerja cottage atau menjual souvenir-souvenir atau menjadi guide/boat driver.

Kami tiba di homestay kami sekitar pukul 16.00 WIT. Membereskan barang-barang dan ternyata makanan untuk makan siang sudah disediakan. Enaknya di Raja Ampat itu, apapun makanannya selalu terasa enak. Tiap kali makan kami akan disajikan lauk ikan besar dan sayur.

a very late lunch!

a very late lunch!

 Sore itu, kami mencicipi segarnya pantai dan matahari Raja Ampat untuk pertama kali. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kami ingkari 🙂 .

Berjalan ke arah kiri homestay, kami menemukan beberapa homestay yang dihuni oleh turis mancanegara. Berenang dan bermain air beberapa saat kami kembali ke homestay, bersih-bersih dan setelah itu nongkrong di depan homestay menikmati sunset. Btw, ini pertama kalinya saya memberanikan diri berenang di pantai. Sejak kecil saya punya phobia air dalam karena pernah tenggelam di sungai. Saya gak akan berani masuk ke air yang ketinggiannya melebihi badan saya. But, this beautiful place just like a magic, bring the courage to do what you think you can’t do. 🙂

 P1090084 Setelah berenang kami bersih-bersih dan menghabiskan sore menuju malam menikmati sunset yang indah seperti di atas ini.

Malam hari di tempat ini sangat tenang. Suara deburan ombak diselingi suara serangga-serangga malam. Karena tempatnya minim cahaya, bintang-bintang menjadi sangat terang. Saya dan beberapa teman mengobrol di bale-bale depan homestay. Kami menyaksikan air surut dan salah satu teman dengan berani turun ke pantai bermain air. Dia menemukan banyak udang-udangan, ikan bahkan ada ular hiii.P1090093Pukul 22.00 WIT kami masuk ke kamar dan beristirahat. Disini, listrik cuma menyala dari pukul 05.00 hingga pukul 24.00 WIT. Waktu listrik menyala dimaksimalkan untuk men-charge berbagai macam alat elektronik untuk bekal jalan-jalan esok hari.

Setiap kamar di homestay ini berisi 2 kasur yang masing-masing dilengkapi dengan kelambu untuk menghalau nyamuk. Karena wilayah ini masih endemik malaria. So when you come here, you better prepare anti-mosquito lotion etc.

Next part… saya akan bercerita hari ke-2 kami di Raja Ampat dan tempat apa saja yang kami kunjungi seharian penuh. 🙂

Advertisements