A Sight of a Trip

Image Have you ever imagine how much scene that you could see on a trip ? That’s a lot.

Even in such a short trip. How about life then ? 🙂

Saya mungkin termasuk “penikmat” perjalanan dalam versi saya tentunya. Kebiasaan yang kerapkali muncul saat melakukan perjalanan adalah memperhatikan orang sekitar. Walaupun kegiatan paling favorit saya untuk menghabiskan waktu dalam perjalanan adalah membaca buku, tidur dan makan. Disela-sela kegiatan favorit itu, saya seringkali memperhatikan orang-orang di sekeliling saya. Banyak hal yang menjadi fokus perhatian, appearance jadi hal yang paling utama menggugah mata dan pikiran saya untuk berpaling dari rutinitas nyaman saya. Entah karena orang itu ganteng/cantik/goodlooking atau sebaliknya. Bisa juga karena style/fashion statement dari orang itu menarik minat saya. Bisa juga karena ada percakapan menarik yang terjadi di antara orang per orang. Kebiasaan itu tanpa sadar membuat saya mencoba menerka-nerka orang-orang yang saya perhatikan.

Pernah saya berada  di bus dari Tanjung Priok menuju Bogor. Banyak ekspresi yang tertangkap oleh mata saya dari berbagai macam orang. Saya pun dengan iseng merangkai kira-kira apa yang ada dipikiran orang-orang itu pada moment saya menangkap ekspresi mereka.

1) Seorang anak jalanan di perempatan lampu merah.

Dia, laki-laki. Saya menebak umurnya belumlah sampai di angka 20. Memakai kaos hitam dan celana jeans coklat selutut. Dia duduk di tembok lampu merah. Matanya melihat sekeliling, dengan kening yang saling bertautan. Mungkin karena menahan silau terik matahari. Dahinya pun sampai berkerut-kerut. Entah dia mengerjakan apa, sepanjang lampu merah menyala dia tak beranjak dari tempat duduknya, tak seperti anak jalanan lain yang berebutan kendaraan umum untuk dijajali nyanyian-nyanyian mereka. Ahh, mungkin saya yang salah tebak… Sangat bisa dia bukan bagian dari jalanan atau tunawisma. Tapi yang membuat penasaran, apakah gerangan yang menyebabkan dahi itu berlipat dan alis mata saling bertaut.

2) Abang pengamen berbaju biru

Mukanya muka ceria, suaranya tak seberapa merdu serupa dengan petikan gitarnya. Tapi dia bernyanyi cukup sungguh-sungguh. Karena sungguh-sungguh saya memberi seribu perak sebagai upahnya. Tak banyak yang saya tangkap. Hanya saling tersenyum saat saya memberi uang sambil tersenyum dan dia membalas terima kasih juga sambil tersenyum.

3) Bapak paruh baya, dengan istri yang juga paruh baya, dan seorang balita

Dia mengantar istri dan anaknya ke pangkalan bus. Di tengah terik matahari yang menyiksa, dia sesekali mengelap keringat dari kaus oblongnya yang sudah kusam. Istrinya, si ibu sesekali menyuapi sang anak dengan sebuah pisang sambil sesekali juga memeriksa kardus-kardus yang dia bawa. Sudah ikut semuakah atau ada yang masih tertinggal di rumah. Peluh pun memenuhi dahi ibu itu. Akhirnya merka memutuskan berteduh di bawah pohon kersen meranggas di sisi lain trotoar. Bus yang mereka nanti tak kunjung datang. Tak seberapa lama, bus yang mereka tunggu datang juga. Sang Bapak membantu sang ibu mengangkut kardus-kardus bawaannya ke bus. Setelah selesai, sang ibu dan anak menyalami sang Bapak. Berpelukan sejenak. Sambil ditutup dengan sang Bapak menepuk sayang kepala anaknya. Mungkin sang ibu dan anak akan pergi cukup jauh dan cukup lama. Emosi tersirat dari pandangan si Bapak, dia terlihat khawatir.

4) Percakapan ibu “sosialita”

Sepanjang perjalanan biasanya saya habiskan waktu untuk tidur. Tapi tidak kali ini, hampir separuh awal perjalanan saya terjaga. Percakapan orang yang duduk di belakang saya entah kenapa agak menarik perhatian. Dari suaranya dia mungkin ibu-ibu umur 30-an akhir. Dia berbicara lewat handphone, entah dengan kawan entah dengan lawan. Terdengarnya seperti lawan yang seolah kawan. Cukup lucu juga sebenarnya memperhatikan diusia yang seperti itu ibu ini masih memerlukan pemuasan terhadap pengakuan orang-orang. Apa memang diumur itu malah waktunya yaa?. Dia terdengar membicarakan kekurangan ibu yang satu dengan pernyataan “kalau aku sih, aku gak akan mau yang ini, yang itu ajah” atau terkadang terdengan “emang, dia itu emang orangnya gitu. Suka gak sreg deh aku sama dia.” dan yang paling lucu ada statement begini “iyaa, kemarin liat kan tas merah yang dia pake? Ihh itu mah keliatan banget kw-nya. Saya mah kalo beli tas mesen tuh dari luar”. Hmm, dalam hati sebenarnya saya mikir. Wah ibu ini humble sekali yaa, bisa punya effort beli tas dari luar negeri tapi tetep pake angkutan umum. Secara gaya ngomongnya aja udah macam ibu sosialita dari mana.. Ooops! Look at me, dan saya baru aja menduplikasi how she acts. Membicarakan orang dibelakang. Hahaaa. Yaa memang kadang kita gak pernah sadar dengan kejelekan kita sendiri. Seringnya sih emang lebih gampang melihat kejelekan orang lain ketimbang. Hehehe.

That’s what I got on my 3 hours trip back to my home. On that 3 hours you’ll never gonna see all the world. But the pieces that you got will complete how the world you see.

So enjoy every little trip of your long journey to life 🙂