Puang Sumeng

Puang Sumeng….

20150424_094400Begitu kami para cucu selalu memanggil dia. Ibu dari Bapak saya. Nama aslinya Andi Sumeng. Hanya itu yang kutahu. Kalo tidak salah ingat dia punya beberapa saudara perempuan.

Perawakannya tinggi, kulitnya gelap, rambutnya bergelombang dan selalu dicepol rapi. Tiap pagi, siang dan sore selalu ada kopi hitam kental dan rokok kretek.

Puang ini yang merawat saya dan adik saya yang kedua. Dia meninggal saat umur saya 4 atau 5 tahun. Karena serangan jantung. Saya masih ingat waktu mendapat kabar meninggalnya si Puang. Bapak, Mamak, saya dan adik saya sedang dalam perjalanan dari Larompong (kampung Mamak di daerah Luwu) menuju rumah (rumah kami di Sengkang, sekitar 2 jam dari Larompong). Sesaat sebelum sampai ke rumah, kami bertemu dengan sepupu Bapak sedang membawa kresek merah berisi kain kafan. Mobil pun mengejar motor mereka, dan Bapak bertanya siapa yang meninggal. Tante saya pun menjawab : Puang Sumeng meninggal. Detik kemudian yang saya tahu, Mamak menangis dan menyuruh supir untuk menambah kecepatan. Saat itu saya bahkan tidak sempat melihat apa reaksi Bapak. Saya bahkan belum mengerti apa arti “meninggal”. Yang saya tangkap, meninggal itu sesuatu yang membawa kesedihan.

Kami tiba di rumah, dan memang rumah sudah ramai. Orang-orang sudah berkumpul. Kami naik ke rumah, langsung menuju kamar Puang. Kamar tempat saya biasa tidur tiap malam. Yaa, Puang teman tidur saya setiap malam. Waktu itu saya tidak mengerti kenapa semua orang menangis. Hal terakhir yang saya ingat, sebelum Puang dibungkus kain putih, saya diminta mencium Puang. Puang tidur dengan tenang. Matanya terpejam dengan tenang. Tidur seperti biasanya.

Biasanya Puang datang menyapa, saat demam panas melanda. Hampir setiap demam panas, mereka datang menyapa. Entah kenapa kemarin saya merindukan Puang. Saya menggali memori-memori yang saya ingat pernah saya habiskan bersama Puang, di awal-awal otak saya bisa mengingat memori.

Saya ingat, tiap sore biasanya saya dan Puang menghabiskan sore di teras rumah. Saya ingat suatu sore pernah diisi dengan Puang dengan kopi dan rokoknya, dan saya dengan sepiring potongan tebu yang sudah disiapkan Puang. Saya juga ingat, suatu sore pernah diisi dengan pisang goreng panas buatan Puang, disajikan dengan mentega dan gula pasir juga teh panas dan tetap kopi hitam kental untuk dia.

Saya ingat pernah melihat Puang shalat siang hari. Dan saya mengamati gelas kopinya yang kemasukan lalat. Saya ingat Puang yang mengayun adik kedua saya yang masih kecil dan suka sekali menangis.

Saya ingat Puang senang membuat manisan pepaya. Manisan yang dibentuk lucu-lucu.. ada bulan ada bintang. Manisan itu biasanya dibuat di panci kuningan yang besar. Dan semenjak Puang meninggal, saya tidak pernah lagi mencicipi manisan itu.

Saya ingat pernah ikut Puang ke rumah keluarga yang meninggal di desa, dan ke sana kami harus naik perahu. Saya melihat orang bergumam sambil bermain bulir jagung. Saat dewasa baru saya tahu, kalau bulir jagung itu dipakai untuk berdoa, gumaman itu adalah doa.

Saya ingat tiap malam sebelum tidur, Puang akan “mencapa’-campa'” saya sampai saya tertidur.

Tapi saya lupa suara Puang, saya lupa bagaimana intonasi dia bicara. Yang saya ingat sebatas potongan-potongan memori penanda dia pernah hadir di hidup saya.