Fibroadenoma Mammae Multiple (FAM)

Jadi berniat nulis postingan ini gegara aplikasi TimeHop tiba-tiba popping up notifikasinya daan ternyata setahun yang lalu di waktu yang sama saya masih terbaring lemes di rumah sakit dalam rangka recovery habis operasi. Tahun lalu bisa dibilang tahun yang cobaannya lumayan buat saya pribadi. Ceritanya, di sekitar bulan April saat saya sedang tugas di luar kota tanpa sengaja saya menyadari ada benjolan yang agak asing di bagian payudara. Saya kemudian mengingat-ingat. Beberapa tahun yang lalu sebenarnya saya pun sadar akan keberadaan benjolan tersebut, tapi saya masih cuek saja karena ukurannya masih terbilang kecil. Akhirnya sedikit panik, saya mencoba mem-googling di internet tentang benjolan di payudara. Berbahaya atau kah tidak dan langkah apa yang harus saya lakukan. Pada awal pencarian, kebanyakan yang muncul adalah berita-berita seram yang mengarah pada tumor ganas dan kanker. Saya agak sedikit ngeri, berhubung beberapa orang yang saya kenal di keluarga saya ada yang pernah menderita tumor dan kanker payudara. Dari hasil browsing, akhirnya saya bisa mengetahui apa yang harus saya lakukan pertama setelah memastikan sendiri keberadaan benjolan tersebut. Ada teknis sederhana yang bisa dilakukan sendiri sekedar untuk pre-check up, istilahnya SADARI. Caranya bisa dilihat di sini. Setelah memastikan ada benjolan yang asing dan membicarakan dengan orang tua saya, saya akhirnya memberanikan diri ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Kebiasaan masyarakat kita pada umumnya, saat ada keluhan apalagi keluhan yang mengarah ke penyakit-penyakit berbahaya malah cenderung ditutupi karena terlalu takut menghadapi hasilnya. Saya pun pada awalnya merasa demikian. Tapi untuk hal ini tentu saya tidak bisa bertaruh dengan duduk diam saja, saya putuskan untuk menghadapi ketakutan saya terhadap apapun hasil pemeriksaan yang akan keluar nanti.

Hari itu, saya ke rumah sakit bagian dokter umum untuk meminta rujukan ke bagian radiologi (karena untuk ke radiologi ternyata gak bisa langsung main janjian dengan dokter radiologi, harus ada pengantar dulu dari dokter umum). Dokter umum memeriksa saya, dan juga meng-iya-kan keberadaan benjolan asing di payudara saya. Hari berikutnya, saya menemui bagia radiologi. Pemeriksaan yang akan saya jalani adalah pemeriksaan Ultrasonografi. Selama ini, pikiran saya yang sempit hanya mengira bahwa pemeriksaan USG itu hanya dilakukan oleh ibu hamil hehe. Ini pertama kalinya saya menjalani pemeriksaan USG. Agak malu pada awalnya, tapi yaa jadi pasrah aja hehe. Pemeriksaan dilakukan persis seperti adegan-adegan sinetron ato drama korea yang nontoni ibu hamil, cuma bedanya ini yang diobservasi adalah payudara sampai ke ketiak (so you better shaving before do it LOL).

20150911_085431

Hasil USG Perdana. You can spot the malignant, they looks like “kawah bulan”

Dari hasil USG perdana, ternyata yang terlihat tidak hanya satu benjolan. Benjolan yang terasa itu, memang benjolan yang ukurannya paling besar (diameter sekitar 20 mm), ada beberapa benjolan kecil tersebar di payudara kanan dan kiri. Masih tidak teraba karena ukurannya memang sangat kecil (diameter > 10 mm – 16 mm). Dari hasil radiologi, saya dirujuk untuk segera berkonsultasi dengan dokter bedah (nah kan udah mulai serem T.T). Akhirnya saya menuruti saran dokter, dan segera membuat janji konsultasi dengan dokter bedah. Sesuai jadwal yang disepakati, saya bertemu dengan dokter bedah. Dia memeriksa saya dan melihat hasil USG. Hari itu juga dokter menyarankan operasi (duarrrr..! T.T). Menurut dokter, kalau dilihat dari penampakan USG-nya sih tumor (istilah dokter) yang saya derita masih bersifat jinak, jadi semakin cepat diangkat, akan semakin baik. Hari itu sempat sudah akan menentukan jadwal operasi tapi kok yaa hati masih teu puguh. Jadilah saya pulang dulu dengan alasan mau berkonsultasi dengan keluarga dulu. Setelah berbincang dengan keluarga dan beberapa teman, akhirnya saya memutuskan untuk pindah rumah sakit yang agak jauh. Agak kurang sreg juga sih sebenarnya dengan layanan dokternya yang seolah tidak memberi alternatif lain selain operasi. Saya pindah ke salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, sesuai saran teman saya, saya mencari ahli onkologi (dokter yang ahli dalam bidang per-tumor-an lah kira-kira). Setelah mencari-cari informasi di rumah sakit ini (atas rekomendasi salah satu teman juga yang pernah menderita penyakit yang sama), saya memutuskan untuk membuat janji konsultasi. Nama dokter saya Dr. Naland. Kakek-kakek Tionghoa yang suka manggil saya (well, maybe most her young age patienst) dengan Non. Konsultasi pertama, saya membawa hasil USG dari rumah sakit sebelumnya. Tapi karena hasil fotonya kurang clear, opa dokter merujuk saya ke bagian radiologi rumah sakit ini. Hari itu juga saya ke bagian radiologi dan di USG kembali. Well, beda rumah sakit beda kualitas saya pikir, dan beda ongkos juga 😀

?????????????

Pemeriksaan USG saya keluar dan saya kembali mengkonsultasikan hasilnya kepada dokter onkologi saya. Dari hasil USG, penampakannya saya menderita FAM (Fibroadenoma Mamae). Sesuai penjelasan dokter, intinya benjolan yang ditemukan di payudara saya termasuk tumor jinak. Sekali lihat, opa dokter langsung meledek ” pasti males makan sayur yaa?”. Crap! kok ketahuan heheh. Saya memang bukan pendoyan sayur sejak kecil. Malah kalau makan saya prefer makanan saya kering, tanpa kuah. Banter-banter paling pake kuah ikan masak. Kalau harus makan sayur, saya cuma makan sayur daun-daunan dan paling gak suka sayur batang-batangan hehe.

20150911_085541

FAM yang ada di payudara kanan. Yang keraba cuma 1 tapi ada 3 yang terdeteksi di USG

Dokter menjelaskan kalau penyakit ini memang banyak ditemukan pada wanita di usia awal 20-an. Bisa jadi karena pengaruh hormonal yang diakibatkan oleh pola hidup yang dijalani termasuk di dalamnya pola makan. Katanya orang yang mengidap peyakit ini keseringan mengkonsumsi makanan yang mengansung MSG (monosodium glutamat) atau kebanyakan makan junk food. Tetapi kata opa dokter, alternatif paling baik memang dioperasi supaya bisa benar-benar dipastikan apakah tumor tersebut ganas atau tidak. Enaknya, setelah saya menanyakan apakah ada pilihan lain selain operasi, opa dokter memberikan penawaran untuk menjalani terapi obat-obatan selama kurun waktu tertentu. Saya tentu saja memilih alternatif itu. Setidaknya masih ada beberapa waktu untuk menjalani beberapa laternatif pengobatan yang memungkinkan untuk tidak dioperasi. Membayangkan dibelek-belek aja saya udah seram hiii. Akhirnya, selama 4 bulan berikutnya saya rutin check up tiap bulan dan menkonsumsi anti oksidan serta vitamin E dosis tinggi. Ini untuk menghambat pertumbuhan si tumor, yaa lebih bagus lagi kalau bisa menciut. Di luar konsumsi obat dari dokter, atas saran beberapa teman dan keluarga, saya pun mencoba mengkonsumsi obat-obatan herbal seperti ekstrak kunir putih, bawang arab/dayak, sarang semut bahkan mencoba menjadi vegetarian (yang hanya long last 3 bulan gara-gara tidak bisa mengatur menu dengan baik dan berakhir dirawat di rumah sakit karena thypus 😀 ).

Hasil USG setelah 4 bulan USG pertama.

Hasil USG setelah 4 bulan USG pertama.

Empat bulan berikutnya saya melakukan USG lagi, tepatnya di bulan Agustus. Oia, selain USG, pada pemeriksaan pertama saya juga melakukan pemeriksaan Thorax. Dari hasil USG kedua ini, ternyata tetap terjadi penambahan ukuran tumor dari USG pertama. Sesuai kesepakatan diawal, kalau tidak ada perubahan (tentu saja harapannya timornya menciut) maka saya bersedia menjalani operasi. Selain USG, saya juga menjalani pemeriksaan Mammografi (ini kayaknya yang paling gak enak, lebih gak enak dibanding pengambilan sample darah di Lab 😦 ). Setelah konsultasi, akhirnya disepakati saya akan menjalani operasi di tanggal 8 September 2014. Saya pun hari itu memulai semua proses yang harus dilakukan, mulai dari membooking kamar (its approximately a week before the operation), tes sample darah dan lain-lain. Dokter menjelaskan kalau operasi yang akan saya jalani memerlukan pembiusan total (in some cases, tumor seperti saya cukup diangkat dengan bius lokal). Operasi ini tidak akan mempengaruhi fungsi payudara seperti menganggu fungsi menyusui. Jadi saya merasa aman-aman saja.

A week later, saya kembali ke rumah sakit dengan segala persiapan perawatan pasca operasi. Ditemani bapak dan adek-adek dan gak ketinggalan si sahabt tercinta (yang tadinya ngarep bisa ketemu sebelum masuk ruang OP tapi gak bisa nyampe ternyata hehehe). Saya masuk ke kamar perawatan terlebih dahulu (karena ini rumah sakit swasta yang agak oke, jadi kelas III pun fasilitasnya sudah sangat baik menurut saya), mengganti baju seperti di sarankan suster. Dan sudah puasa sejak pagi. Hiks. Sekitar jam 11, dokter anastesi datang menjelaskan tentang anastesi seperti apa yang akan saya dapatkan di ruang operasi, kapan anastesinya akan dimulai dan perkiraan saya akan sadar dari anastesi, setelah itu saya disuntikkan semacam obat antibiotik untuk tes alergi. Pukul 14.00 WIB, perawat datang dan saya siap di bawa ke ruang OP (padahal jadwal operasinya pukul 15.00 WIB). Perasaan masih santai, tapi karena melihat tatapan khawatir Bapak, jadi ikut deg-degan. Masuk ke ruang OP masih bisa senyum-senyum dadah-dadah ke penjaga-penjaga saya. Ternyata, saya tidak langsung masuk di ruang OP. Saya mampir dulu di ruangan semacam ruang transit. Sayangnya pas nengok saya sempat melihat ada banyak darah (hoosh, blood really not my things). Akhirnya sepanjang jalan saya merem. Sampai tiba di shelter saya sendiri. Seorang suster pria datang, memasangkan infus dan meminta saya mengganti baju (pake baju ijo-ijo). Suster-susternya ramah, pada ngajak bercanda, mungkin karena sudah melihat muka saya pucat. Dalam hati sih udah segala macam apalan quran dirapalin. Sekitar 20 menit sebelum pukul 15.00 WIB, dokter saya keluar dari ruang bedah yang sesungguhnya, dia dikabari oleh suster bahwa pasien selanjutnya sudah ada (who is saya hehe). Si opa dokter ternyata baru selesai operasi juga. Dia pun menghampiri saya, melihat kembali hasil USG dan kemudian menggambar (literally on the area to operate by spidol) sisi mana yang harus dibelek. Setelah opa dokter pergi, dokter anastesi saya pun datang, menyuntikkan cairan yang akan membuat saya terbang entah kemana untuk beberapa saat. Semakin ke sini semakin mengantuk.. bacaan quran yang saya rapalin pun kok rasanya makin kacau hahaha. Daaan, akhirnya gelap……………………

Saya terbangun setengah sadar, membuka mata dan melihat suster sedang menulis tapi gak punya daya buat ngomong. Sepertinya mbak suster memperhatikan gerak-gerik mata saya dan akhrinya menghampiri, melepaskan selang (yang saya gak sadar dari tadi) dari mulut saya, diganti dengan selang oksigen. First thing i was aware, Alhamdulillah ya Allah saya masih bangun. Beberapa saat kemudian, saya pun dipindahkan kembali ke kamar perawatan saya. Daan ternyata saat itu sudah pukul 18.00 WIB lebih. Keluarga dan sahabat sudah ramai. Ada bapak yang langsung mendekati. Ada adek-adek, sahabat-sahabat, kakak serta tante. Katanya sih malam itu saya meracau aneh-aneh. Apalah yaa, namanya juga masih setengah bius. Setiap orang saya tanyain udah makan apa belum 😀 (cpcpcp even dalam keadaan setengah sadar, yang gue ingat adalah makanan, gak ada romantis-romantisnya macam di sinetron hahah). Dalam 5 hari perawatan, di hari pertama setelah operasi saya didatangi oleh ahli nutrisi yang memberikan penjelasan makanan apa saja yang akan diberikan kepada saya 5 hari ke depan dan makanan apa saja yang bisa mendukung proses pemulihan saya (disaranin banyak makan tomat, huhuhu). Setiap hari ada dokter jaga yang bergantian shift menanyakan kabar dan keluhan. Dokter saya sendiri dalam 5 hari berkunjung sebanyak 2 kali. 2 hari pasca operasi dan sehari sebelum saya kembali ke rumah. Overall, pelayanan rumah sakit ini sangat baik dan sangat membuat nyaman pasien. Ada suster yang memandikan tiap pagi dan sore, menu makanan bisa milih, kamar dibersihkan 2 kali sehari daan susternya pada responsif. Selama di rumah sakit pun banyak teman yang menjenguk, dijengukin Ibu (panggilan buat calon mertua) yang akhirnya jadi kesempatan buat ngenalin ke Bapak hehehe.

Pemulihan pasca operasi saya cukup lama. Sekitar sebulan saya baru bisa beraktifitas normal. 2 minggu saya habiskan di rumah Tante saya di Tanjung Priok untuk memudahkan makan dan perawatan saya (terima kasih yaa tanteee :* ), baru setelah itu saya kembali ke Bogor. Itu pun tidak bisa langsung beraktifitas normal, saya istirahat 1 minggu dulu tanpa ke kampus dan mengerjakan apa pun. Bulan-bulan berikutnya saya habiskan dengan berkonsultasi tiap bulan dengan dokter saya. Jadi saya masih harus bolak balik ke Jakarta sekali sebulan. Masih mengkonsumsi obat seperti sebelumnya cuma kali ini ditambahkan obat salep untuk luka operasinya. Yaaang unfortunately, serapih apa pun jahitannya tetap berbekas hiks hiks. Proses pengobatannya kurang lebih 1 tahun 1 bulan karena saya terakhir check up di bulan Mei kemarin dan sudah tidak ada keluhan nyeri lagi jadi kunjungan ke dokter saya akhiri. Apakah mungkin penyakit ini kembali lagi walaupun sudah operasi? Jawabannya tetap IYA. Jadi yang harus dilakukan adalah menjaga pola hidup sebaik mungkin, menjaga pola makan sebaik mungkin, dan pemeriksaan teratur untuk deteksi dini.

Setahun perawatan tentu menghabiskan materi yang cukup banyak (operasinya sendiri hampir IDR 23 juta belum konsultasi yang tiap kunjungan menghabiskan minimal IDR 500ribu sampai IDR 2juta), waktu dan tenaga juga perasaan hiks hiks. Tapi yaa cobaan adalah cobaan, tinggal dihadapin aja. Dibalik kita yang merasa menderita, masih ada orang-orang yang lebih menderita yang mungkin kita tidak pernah tahu. Intinya, KESEHATAN ITU PENTING..! Dan yang bisa menjaga tubuh kita ya kita sendiri.

Tulisan ini hanya untuk berbagi pengalaman. Berbagi cerita. Syukur-syukur bagi teman-teman wanita bisa menimbulkan kesadarannya untuk memeriksa diri sendiri sejak dini. Dalam banyak kasus, tumor jinak seperti ini disepelekan, padahal potensinya untuk berubah menjadi tumor ganas cukup tinggi kalau tidak diperlakukan dengan tepat.

Tuhan Bekerja dan Saya pun di Raja Ampat (part 2)

Hari ke-2…..

I can say that this is the main day of our Raja Ampat trip. Sekitar pukul 07.00 kami meninggalkan homestay. Hari ini kami merencanakan beberapa titik wisata. Yang pertama Piaynemo. Dari homestay kami, pulau ini ditempuh dengan 2 jam perjalanan. Piaynemo dikenal juga dengan sebutan Mini Wayag. Wayag adalah salah satu bagian dari Kepulauan Raja Ampat yang paling terkenal. Piaynemo ini bentuknya memang menyerupai Wayag cuma dengan lingkup areal yang lebih kecil. Untuk masuk ke Piaynemo, kami dikenakan biaya Rp. 10.000 per orang. Speedboat kami merapat di darmaga Piaynamo homestay. Ternyata speedboat kami yang paling duluan merapat. Disusul satu boat yang isinya seorang turis Eropa dan beberapa guidenya. How lucky we were. It’s mean there’s a lot of space to take the photograph and enjoy Piaynemo for our little group.

Darmaga Piaynemo

Darmaga Piaynemo

Kami berjalan menyusuri darmaga menuju ke arah puncak Piaynemo. Tracking menuju puncak dimudahkan dengan fasilitas anak tangga yang katanya berjumlah ratusan. Walaupun sudah dilengkapi anak tangga, karena fisik menciut gegara gak pernah olahraga, sampai puncak pun ngos-ngosan juga rasanya hehehe.

Tracking track

Tracking track

Tapi sesampai di puncak, apa yang didapat rasanya sepadan. Akhirnya terlihatlah pemandangan yang selama ini cuma bisa dirasa-rasa lewat foto-foto orang. Capek siih, tapi worth it lah dapat pemandangan yang Alhamdulillah banget dikasi kesempatan buat menikmatinya.

Piaynemo

Piaynemo

Laguna Bintang

Laguna Bintang

20150122_100006Setelah puas menikmati Piaynemo (well, gak sampe puas sih soalnya 30 menit kemudian datang rombongan besar turis China dan Jepang yaang membuat kami mau gak mau lebih memilih bergeser ke tempat yang lebih tenang hahaha), kami melanjutkan perjalanan ke situs selanjutnya Kampung Wisata Arborek.

Darmaga Kampung Arborek

Darmaga Kampung Arborek

Pulau Arborek merupakan salah satu pulau berpenghuni di Raja Ampat. Di sini aktifitas warganya kebanyakan membuat kerajinan. Sayang sekali untuk kesempatan kali ini kami tidak masuk ke dalam kampung untuk melihat aktifitas warga. Dari darmaga, kami melihat kampung sepi seakan tidak ada aktifitas, jadi ingin masuk pun rasanya enggan. Kami makan siang di darmaga. Setelah itu bermain air di sekitar darmaga. Kampung Arborek ini menjadi salah satu best spot untuk snorkling dan diving. Dari atas darmaga saja kami sudah bisa melihat terumbu-terumbu karang yang cantik dan bintang laut juga ikan-ikan yang asik seliweran. Apa kabar kalo langsung nyemplung kan? hehe.

See those little fishes!

See those little fishes!

Beberapa teman menikmati snorkling. Saya sendiri belum berani turun main air di site ini. Hanya berani memandangi dari atas padahal persiapan mental sudah dilakukan sejak awal keberangkatan. Tapi pas ketemu air dalam, walaupun jernih ternyata jiper juga. Hahaha. Di site ini arus laut cukup deras, jadi guide kami mengingatkan untuk berhati-hati saat snorkling. Karena dengan arus yang deras, kadang kita tidak sadar terbawa arus cukup jauh Tidak jauh dari darmaga Kampung Arborek, ada sekelompok wisatawan asing dengan perlengkapan diving akan melakukan diving. Beberapa lainnya ikut snorkling di sekitar tempat kami berlabuh.

Darmaga Raja Ampat Dive Lodge

Darmaga Raja Ampat Dive Lodge

Site berikutnya yang kami kunjungi adalah Raja Ampat Dive Lodge. Meskipun cottage ini private, tapi kami ternyata boleh menikmati pantainya yang cantik. Cottage ini cukup mewah, kata guide kami kebanyakan yang nginap di sini turis-turis dari Eropa. Menginap semalam pun budgetnya bisa jutaan. Kalo turis lokal sih kayaknya masih sayang yaa menghabiskan budget menginap sampai jutaan hehe. Di cottage ini kami juga melihat dengan jelas banyak terumbu karang di bawah bangunan darmaga karena jernihnya airnya. Masuk ke dalam area cottage kami sudah di sambut oleh pantai yang pasirnya putih dan halus. Matahari yang terik tidak menghalangi kami bermain di pantai. Its time for sun bathing. Yeeay!

P1090281

I got this coral picture under the dramaga.

I got this coral picture under the dramaga.

P1090280

Sea, sun, and sand.

P1090271

Beranjak dari Dive Lodge Raja Ampat kami menuju ke area dekat homestay yaitu Desa Yenbuba. Desa Yenbuba ini masih masuk dalam Pulau Manswar cuma pulaunya berseberangan. Desa Yenbuba berada di pulau kecil sebelah pulau Manswar besar. Di siang hari saat air laut sedang surut, pulau ini dipisahkan oleh hamparan pasir serupa pasir timbul. Jadi kami berjalan menuju Desa Yenbuba mengarungi (duileh “mengarungi” hahaha) lautan yang dalamnya cuma sebetis. Sesampai di ujung pulau, saya pun memberanikan diri snorkling. Di sini arusnya jauh lebih tenang dibanding Kampung Arborek. Di kawal uncle Arnold (guide kami) saya mulai snorkling di tempat yang cetek (cuma sepinggang airnya). Pertama kali nyobain snorkling daaan mempraktekkan latihan berenang selama ini hahaha. What i can say. It is superb amazing view that i ever see. Tapi makin ke sana kok yaa makin serem yaa karena perairannya makin dalam. Buuut, i encourage my self. I have to go through this fear. This is the momentum. Jadi di tengah deg-deg serr takut kelelep, baca jampi-jampi dalam hati, daan sekaligus senang bisa berenang dengan ikan-ikan warna-warni, lihat terumbu karang yang beraneka ragam bentuk dan warna. Snorkling sekitar setengah jam, saya akhirnya berhasil mencapai tiang darmaga pulau sebelah. Fiuhhh!. But after that, sama sekali gak berani ngelepasin pegangan tangan dari tiang karena airnya jadi semakiin dalaaaam dan dalaaaam.

P1090321

Yang lain renang, eike mah pegangan aja di tiang. Takut nyungsep T.T

Yang lain renang, eike mah pegangan aja di tiang. Takut nyungsep T.T

Temen-temen yang lain sih masih tetap “molo” bersama. Saya memilih diam sambil pegangan di tiang, menunggu boat kami merapat di darmaga sambil sesekali nyemplungin kepala buat ngeliat pemandangan bawah lautnya. Selesai snorkling, kami kembali ke atas kapal. Banyak anak kecil yang menonton kami berenang. Mereka diminta Uncle Arnold mengambilkan buah-buahan. Dan dapatlah kami sekantong besar mangga hutan.

Next destination sekaligus, last destination kami kembali menuju Pasir Timbul. Bermain air dan foto-foto bersama. Tidak banyak waktu yang kami habiskan di Pasir Timbul kali ini, karena cuaca tiba-tiba berubah mendung. Jadi kami putuskan untuk kembali ke homestay. Rencana awal, malam ini kami masih menginap di Raja Ampat. Tapi karena sebagian besar lokasi menarik sudah selesai kami kunjungi hari ini, dalam rangka mengirit ongkos kami memutuskan untuk pulang kembali ke Waisai sore itu juga dan menginap di Waisai semalam. Dan akan menyeberang kembali dengan kapal cepat keesokan harinya. Perjalanan kami ditutup dengan sunset manis di tengah laut.

P1090350

As resume of my trip story at Raja Ampat i write some points that maybe useful for whoever reads this post :

  1. Kami ke Sorong menggunakan maskapai Garuda Indonesia (bukan karena gaya, tapi karna waktu memesan maskapai itu malah yang menyediakan lower fare dibanding maskapai lainnya) dengan memesan di Traveloka.
  2. Penerbangan ke Sorong biasanya transit di Manado, kebetulan pesawat kami transit malam dan berangkat lagi subuh hari sehingga kalau punya keluarga di Manado akan lebih baik menghubungi mereka untuk sekedar numpang istirahat atau mutar-mutar kota Manado sembali menunggu penerbangan. Jika tidak, di bandara ada minimart yang buka 24 jam. Tinggal belanja di sana dan ngomong ke mas-nya mau numpang transit. Its better if you have travelmate.
  3. What i regret most is, i didn’t prepare any documentation tools for these trip. Gak bawa kamera yang agak kece (ex. DSLR or Go Pro or underwater camera) bahkan gak kepikiran buat nyari kondom untuk kamera digital yang dibawa. So i can’t give you all the beauty of the scnenes that i saw there.
  4. Walaupun disediakan alat snorkle, tapi karena alatnya terbatas sebaiknya dari awal dibicarakan kepada penyedia layanan untuk menyediakan snorkle sesuai jumlah orang atau better you bring your own snorkle.
  5. Harusnya mah ke sini udah pinter diving T.T. Because you know, you’re gonna miss much more amazing underwater view.
  6. All money i need to have this trip (exclude airplane ticket and cost i spent in Sorong) approximately IDR 1.300.000. YES. It very very cheap if you compare with another travel agent which budget at least IDR 2.500.000 per person. We spent IDR 5.000.000 for the speedboat while other normally get IDR 8.000.000. (that is what a friend of friend’s is for), we spent IDR 400.000 per person for the homestay while other normally get IDR 500.000. We didn’t spent anything in Waisai because we spent the night at our friend’s friend (who also own the boat 😀 )

For me this is like unreal trip. I have wish for such a long time to have this chance. Daan as usual, all you need to do is ask and just wait for the answer.

Seperti, membaca Partikel yang akhirnya membawa saya ke Taman Nasional Tanjung Puting. Memimpikan ke Bali dan akhirnya pekerjaan membawa saya ke Bali. Ingin ke Komodo dan akhirnya ada juga kesempatan main ke Taman Nasional Komodo. All begin with the WISH and BELIEF.

So, keep dream on. There’s so much place wait to be visit.

Tuhan Bekerja, dan Saya pun Di Raja Ampat (Part 1)

Every single desire can lead to dream and every single dream has possibility to become reality

Santosh Kalwar

Pernah menginginkan sesuatu sampai membayangkan kalo kamu sudah  memperolehnya ? Yes, I did. I do. Insipirasi mengunjungi tempat biasanya berasal dari buku yang terbaca, film yang tertonton, atau dari kawan yang berkisah. Raja Ampat.. populer sejak bertahun-tahun yang lalu. Jadi semacam icon wisata di sisi timur Indonesia yang gak semua orang berkesempatan mengunjungi karena memang ongkos berkunjung ke sana gak sedikit. Tapi gak apa-apalah yaa bermimpi sepenuh hati suatu hari bisa mengunjungi Raja Ampat. Masa ngimpi yang gratisan aja gak berani heheh. Entah bagaimana skenarionya. Kali ini pun, seperti biasa, Tuhan bekerja 🙂

Postingan ini kalo ibaratnya makanan kayaknya udah basi ya. Berhubung ke Raja Ampat-nya sudah dari Januari kemarin. Ceritanya ini nyambung sama cerita petualangan kami di Sorong di postingan sini.

Setelah menghabiskan beberapa hari di Sorong yang panas hehe. Akhirnya pada suatu sore, temen Mbak Wita datang dan kami membicarakan persiapan berangkat ke Raja Ampat. So excited.

 Hari Rabu, 21 Januari 2015 kami berangkat dari Kompleks RRI menuju ke Pelabuhan Rakyat Kota Sorong. Jaraknya tidak jauh, sekitar 15 menit ditempuh dengan mobil. Rombongan kami ada ada 9 orang. Kami ber-7 dan kawan Mbak Wita ada 2 orang. Sesampai di pelabuhan, kami segera menuju ke loket tiket untuk membeli tiket feri yang akan membawa kami menyeberang dari Kota Sorong menuju Kabupaten Raja Ampat. Tiket feri nya seharga IDR 75.000. Setelah membeli tiket kami menuju kapal feri yang akan membawa kami menuju Raja Ampat. Kami menggunakan kapal feri Belibis, dan ternyata oh ternyata kabarnya yang jadi Manajer kapal tersebut adalah mantan Kepala Sekolah saya di SMP. Dunia sempit sekali hehehe.

P1080890

Penampakan Pelabuhan Rakyat Kota Sorong

Penampakan Pelabuhan Rakyat Kota Sorong

Kapal feri ini cukup nyaman dan bersih. Kami menghabiskan 2 jam perjalanan untuk menyebrang ke Kabupaten Raja Ampat. Di kapal, kami banyak menghabiskan waktu di dek. Menikmati hembusan angin laut dan pemandangan laut di sekeliling kami. Dan tentu saja, berfoto tak boleh ketinggalan.

Really enjoy the trip

Really enjoy the trip

Kondisi di dalam kapal feri

Kondisi di dalam kapal feri

Rombongan Sirkus ke Raja Ampat

Rombongan Sirkus ke Raja Ampat

Aisyah dan Fahri

Aisyah dan Fahri

P1080920

Pasangan pengantin baru yang bulan madu-nya harus di kawal.

Pasangan pengantin baru yang bulan madu-nya harus di kawal.

Setelah 2 jam perjalanan, kami tiba di darmaga Kabupaten Raja Ampat. Sesampai di darmaga kami menyempatkan diri foto-foto (again, its all about foto-foto). Tidak lama kemudian, hujan turun deras dan kami menuju ke bangunan darmaga untuk berteduh. Bangunan darmaga ini semacam bangunan terminal, tempat orang-orang transit untuk melanjutkan perjalanan mereka ke wilayah Raja Ampat yang dituju. Di sini terdapat semacam pusat informasi yang menyediakan informasi terkait lokasi-lokasi wisata di gugusan Raja Ampat. Tidak banyak yang menggunakan saya rasa, karena kebanyakan orang yang nge-trip ke Raja Ampat ini sudah berhubungan langsung dengan guide/travel agent yang menyediakan trip untuk Raja Ampat. Kami menunggu hujan mereda, setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami ke Mansuar, tempat kami akan menginap sampai besok. Perjalanan ke Mansuar dari Waisai (ibu kota Kabupaten Raja Ampat) kami tempuh dengan speedboat kapasitas 12 orang. Dalam waktu normal, kami bisa mencapai Mansuar hanya setengah jam. Tapi karena satu mesin speedboat kami mati, kami menempuh Mansuar hampir 1 jam.

First site kami temukan setelah sekitar 30 menit melintasi lautan. Ada satu hamparan pasir di tengah-tengah laut, masyarakat menyebutnya Pasir Timbul. Pasirnya benar-benar bersih. Begitu juga air lautnya. That’s very beautiful. Di tengah terik matahari pun kami bersedia turun dan mulai bermain air. Saya bahkan sempat bertemu ubur-ubur diperairannya.

Such a beautiful Indonesia :)

Such a beautiful Indonesia 🙂

See, i got this jellyfish picture :)

See, i got this jellyfish picture 🙂

P1080997

We had fun!

We had fun!

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di Pasir Timbul untuk saat itu. Karena hari sudah mulai beranjak sore dan kami harus bergegas menuju ke home stay. Kami melanjutkan perjalanan kembali, menikmati sisa-sisa pemandangan laut dengan pulau-pulau di kiri kanan-nya. Pulau-pulau tersebut sebagian besar telah dipenuhi oleh cottage-cottage untuk memberikan kenyamanan bagi pengunjung-pengunjungnya. Setelah masuk ke gugusan Pulau Mansuar, letak home stay kami… ada area yang dijadikan pemakaman umum untuk masyarakat sekitar. Yang disayangkan sebenarnya, kebanyakan cottage merupakan investasi dari investor-investor besar dan dari luar negeri. Masyarakat mendapat bagian sebagai pekerja cottage atau menjual souvenir-souvenir atau menjadi guide/boat driver.

Kami tiba di homestay kami sekitar pukul 16.00 WIT. Membereskan barang-barang dan ternyata makanan untuk makan siang sudah disediakan. Enaknya di Raja Ampat itu, apapun makanannya selalu terasa enak. Tiap kali makan kami akan disajikan lauk ikan besar dan sayur.

a very late lunch!

a very late lunch!

 Sore itu, kami mencicipi segarnya pantai dan matahari Raja Ampat untuk pertama kali. Nikmat Tuhan mana lagi yang bisa kami ingkari 🙂 .

Berjalan ke arah kiri homestay, kami menemukan beberapa homestay yang dihuni oleh turis mancanegara. Berenang dan bermain air beberapa saat kami kembali ke homestay, bersih-bersih dan setelah itu nongkrong di depan homestay menikmati sunset. Btw, ini pertama kalinya saya memberanikan diri berenang di pantai. Sejak kecil saya punya phobia air dalam karena pernah tenggelam di sungai. Saya gak akan berani masuk ke air yang ketinggiannya melebihi badan saya. But, this beautiful place just like a magic, bring the courage to do what you think you can’t do. 🙂

 P1090084 Setelah berenang kami bersih-bersih dan menghabiskan sore menuju malam menikmati sunset yang indah seperti di atas ini.

Malam hari di tempat ini sangat tenang. Suara deburan ombak diselingi suara serangga-serangga malam. Karena tempatnya minim cahaya, bintang-bintang menjadi sangat terang. Saya dan beberapa teman mengobrol di bale-bale depan homestay. Kami menyaksikan air surut dan salah satu teman dengan berani turun ke pantai bermain air. Dia menemukan banyak udang-udangan, ikan bahkan ada ular hiii.P1090093Pukul 22.00 WIT kami masuk ke kamar dan beristirahat. Disini, listrik cuma menyala dari pukul 05.00 hingga pukul 24.00 WIT. Waktu listrik menyala dimaksimalkan untuk men-charge berbagai macam alat elektronik untuk bekal jalan-jalan esok hari.

Setiap kamar di homestay ini berisi 2 kasur yang masing-masing dilengkapi dengan kelambu untuk menghalau nyamuk. Karena wilayah ini masih endemik malaria. So when you come here, you better prepare anti-mosquito lotion etc.

Next part… saya akan bercerita hari ke-2 kami di Raja Ampat dan tempat apa saja yang kami kunjungi seharian penuh. 🙂

Frank Sinatra – All My Tomorrows

When your man just ask you to hear Sinatra… and what he ask to hear is this song.

Anybody want to say NO ? 🙂

Lyirics :

Today I may not have a thing at all
Except for just a dream or two
But I’ve got lots of plans for tomorrow
And all my tomorrows belong to you

Right now it may not seem like spring at all
We’re drifting and the laughs are few
But I’ve got rainbows planned for tomorrow
And all my tomorrows belong to you

No one knows better than I
That luck keeps passing me by that’s fate
But with you there at my side
I’ll soon be turning the tide just wait

As long as I’ve got arms that cling at all
It’s you that I’ll be clinging to
And all the dreams I dream, beg or borrow
On some bright tomorrow will all come true
And all my bright tomorrows belong to you

As long as I’ve got arms that cling at all
It’s you that I’ll be clinging to
And all the dreams I dream, beg or borrow
On some bright tomorrow they will all come true
And all my bright tomorrows belong to you

Read more: Frank Sinatra – All My Tomorrows Lyrics | MetroLyrics

Sore yang lagi asik.

Saya benar-benar menikmati sore hari beberapa hari belakangan ini.
Sepertinya purnama malam itu dan pertemuan venus dan jupiter memberi sisa-sisa keindahan untuk dinikmati di sore hari.
Yang kemudian saya lakukan adalah memaksimalkan jalan kaki dari kampus menuju ke kosan.

image

I got this picture above on my way home.
The sun bright shiny, the air felt warm. Just a perfect afternoon.

This afternoon the weather still the same, tough cloudy sky shadowing some spots.
I’m on the train. Enjoying this enjoyable commutter line,  which is rare to be happened.

Praise the Lord for the day. :):):)

Wow! Turning 27.

image

I am oficially 27 today.
Agak serr serr gimana gitu yaa melihat angkanya 😂😂😂
Its mean.. target to be married telah molor 2 tahun…
Target thesis udah molor setahun…
Daan target-target yang lain pun pada ikutan molor…

But lets forget about it today!

I woke up this morning with a big big smile on my face.
27 years. Its been amazing journey of life. And i’m anticipating for the forthcoming journey.

Apa lagi yang bisa tidak disyukuri.
Kalo mengingat kaleidoskop tahun-tahun ke belakang…
Bisa belajar dan bekerja bolak balik ke tanah Papua yang gak semua orang punya kesempatan.
Surrounded by amazing teachers, friends, and family…
Merasakan Bapak sakit dan akhirnya tahu rasanya cemmana anak2 rantau macam saya bersaudara tiba2 dapat ultimatum untuk segera pulang ke rumah. There was so much unexplainable feeling that time.
Bisa menginjakkan kaki ke Raja Ampat. Bertemu keluarga baru di Sorong. Even terdampar di bandara Manado.
Dapat kesempatan main di Taman Nasional Komodo dan 2 days trip around Bali.
Masih diberi kesehatan dan rejeki untuk menjalani hari.

There are so much praying for me today.
I pray the same praying for them.
And this sweet day closed by a little surprised party by my 2 big boys.

image

Us and the birthday cake!

image

image