Cemasnya si Ibu Mertua

Pernah denger mitos tentang Menantu dan Mertua ?

Sering lah yaa, apalagi di tengah masyarakat kita yang budaya keluarganya kental banget.

Meskipun terdiri dari berbagai suku dan budaya, semakin ke sini semakin percaya bahwa, every where tak peduli suku apa pun itu, yang namanya Ibu Mertua, sebagian besar punya kekhawatiran sendiri melepas anak lanangnya ke tangan perempuan lain. Jangan ditanya pula kalau itu kasusnya terjadi sama anak lanang semata wayang. Kebayang lah ya kayak apa cemasnya si mamah.

Hal yang wajar sebenernya kalo menurutku, kebanyakan dari kita selalu menuruti tuturan prasangka, ditambah lagi mungkin banyak kejadian yang direfleksikan oleh sinteron-sinteron masa kini versi majalah hidayah di mana selalu ada menantu perempuan jahat yang merebut hati dan perhatian si anak lanang yang menyebabkan si mamah ditelantarkan oleh si anak lanang. Ohh well, harus nyadar diri kalo masyarakat kita memang terbentuk dalam bentuk psikologis demikian itu.

Kuncinya menurutku sih komunikasi. Kita seringkali terbiasa membentuk prasangka tertentu yang kemudian hari menjadi barrier dalam berelasi dengan orang lain. Meminimalisir prasangka dengan berkomunikasi secara terbuka tentu saja menjadi hal ideal. Tapi sanggupkah kita sebenarnya?
Tulisan ini jadi bahan pikir buat ku secara pribadi. Mengingat mamak pun selalu begitu ke anak-anak lanangnya. Setiap digiring ke persoalan calon pendamping hidup anak-anak lanangnya, statement yang keluar tidak jarang terdengar defensif. Padahal ketemu aja belom kan, jadi mantu pun belum tentu. Pun malam ini mendengar cerita ibu kosan, seorang sundanesse yang punya saorang anak lanang : anak ibu mah boleh kerja kalo mau ke Kalimantan tapi jangan nikah sama orang sana, takut nanti gak mau pulang.  Tuh kan, orang bugis sama orang sunda sama aja, orang betawi juga kayaknya gitu *its not meant to be rasist yes 🙂

Kalo gak salah pun, dulu pernah baca entah dimana (karna sumbernya entah di mana, jadi jangan langsung percaya hehe) anak lelaku itu bertanggung jawab terhadap ibunya pun setelah dia menikah. Apa iya karna statement ini sang ibu-ibu mertua merasa insecure kalo dapat calon menantu yang out of her criteria ? Menjadi suami istri, menantu mertua, itu menjalin ikatan keluarga bukan? idealnya keluarga itu kan saling mengasihi dan menyayangi satu sama lain. Kalo belum jadi keluarga aja udah ada judge gini gitu yang negatif, gimana si menantu kemudian bisa membuktikan kalo it was wrong. I’m better than that. Percaya deh, saat kita menilai orang negatif.. kepala kita cuma nunggu saat orang itu melakukan kesalahan then we will said : Tuh gue bilang juga apa. Gini kan dianya. Implikasinya, si pihak sebelah yang di judge tadi tidak akan pernah bebas menjadi dirinya sendiri karena everything she want you to see is perfection. Not her self. Who not used to be perfect.

Sooo, calon-calon ibu mertua di luar sana. Juat give the chance and let the show goes on… 🙂

A compact and sustainable home for a growing family

Small House Bliss

A compact home for a young family. The child's room can be divided into two small bedrooms as the family grows. | www.facebook.com/SmallHouseBliss

This is the home of a couple and their young daughter. When the family decided to settle down in a countryside village in Slovenia, they asked architect Matej Gašperič to design a sustainable and affordable house. Having spent a lot of time traveling around in a VW van, they knew that they didn’t need much space. A small house would also make it easier to meet the clients’ sustainability and affordability goals. The house has two bedrooms now, but the couple wanted to make sure it would accommodate a second child in the future. The architect designed the upper floor so that the daughter’s room can be divided into two smaller bedrooms when needed.

View original post 268 more words

A cozy cottage retreat in the Turkish countryside

Love these terrace with pergola 😀

Small House Bliss

This cozy stone cottage in the Turkish countryside has one bedroom in roughly 650 sq ft. | www.facebook.com/SmallHouseBliss

Today Emre Şenoğlu is sharing with us his family’s vacation home in Urla on the Aegean coast of Turkey. The small stone cottage is roughly 8 m by 5 m and was designed by Emre’s father, architect Necdet Şenoğlu.


“The house I had in mind wasn’t an exact copy of the ‘village house’. It was something that belonged to this land, almost as if it was made out of the earth lying here.”

– Necdet Şenoğlu

We first came across this piece of land during a sightseeing trip. It was apparent that it once had gone through rich and abundant times. But it looked dull and abandoned now. The first thing we set out to do after buying the land was to take care of the trees. We took care of the walnut and olive trees, which cover most of the land. The tall poplar tree was like a beacon that…

View original post 416 more words

A loft-like laneway house by Lanefab

Just found an awesome blog about house. This could be an inspiring to design yours.

Small House Bliss

A 580 sq ft laneway house with sustainable design features by Lanefab Design/Build | www.facebook.com/SmallHouseBliss

Lanefab Design/Build recently completed this laneway house in the backyard of their clients’ existing house in Vancouver, Canada. The owners are renting the laneway house out for now but plan to eventually move into it themselves, allowing them to downsize without leaving the neighborhood they love. The small house incorporates several green features and achieved one of the highest home energy ratings in Canada.

View original post 274 more words

Lebaran : a point of view of the parents affection.

Entah ini lebaran Idul Adha yang keberapa yang saya lewatkan di kota ini. Well, padahal lebaran identik dengan kumpul-kumpul dengan keluarga besar dan makan-makan besar. Kalau dihitung-hitung, dari tahun 2007, saya tidak pernah menyempatkan diri untuk pulang lebaran Idul Adha bersama Mamak dan Bapak. Entahlah, meskipun sama-sama lebaran, Idul Fitri rasanya lebih afdol buat mudik ketimbang lebaran Idul Adha. Yaa, pada kenyataannya saya memang menangkap makna atau mungkin rasa yang berbeda dari semuanya. Tapi satu rasa yang sama, feel lonely for both event.

As today, baru pulang hari Sabtu kemarin dari Jayapura, masih dalam masa-masa mengistirahatkan badan dan pikiran. Kemarin-kemarin sama sekali tidak berasa hawa-hawa lebarannya. Baru terasa sore ini, malam ini, saat takbir mulai berkumandang. Ohh iya, besok lebaran. Hmm, maksudnya beberapa jam lagi. Dan paling sering selama tahun-tahun saya di sini, saya melewatkan shalat Ied, entah karena halangan, karena ketiduran atau karena kedapatan tugas jagain rumah. Hehehe.

Mungkin karena habit yaa, lebaran itu menjadi lebih bermakna saat kita bisa berkumpul bersama keluarga kita. Mungkin Mamak dan Bapak saya salah satu pasang orang tua paling ikhlas sedunia. Bagaimana tidak?. Punya dua pasang putra putri, tapi tak satu pun tinggal di rumah. Di usia mereka yang mendekati senja, semua anak-anaknya memilih tinggal di tempat yang jauh. Saya dan adik saya yang ketiga, sama-sama tinggal di Bogor, adik kedua saya masih di Jogja dan sepertinya sebentar lagi akan nyusul ke Bogor juga, adik saya yang paling bontot, masuk salah satu boarding school di Makassar. Dulu, saya tidak pernah memikirkan perasaan Mamak dan Bapak saya saat saya harus merantau. Mereka tidak akan sepi, masih ada tiga orang yang harus diurus. Tapi kemudian, setelah semua beranjak dewasa dan pergi meninggalkan rumah, ada perasaaan sedih juga. Sedikit rasa bersalah karena meninggalkan. Khawatir karena mereka tidak ada yang menemani.

Kemudian, saya mulai berpikir… Bagaimana nanti ? Saat semua anak-anaknya berkeluarga dan memang memilih tinggal di tempat yang jauh dari mereka. Yaa, bersyukurlah pada anak-anak yang tidak harus dihadapkan pada pilihan seperti ini. Seorang kawan pernah berkomentar, kalau setiap orang tua itu punya waktu dimana mereka memang harus mengikhlaskan anaknya untuk menjalani kehidupan mereka masing-masing. Kemudian kawan yang lain mulai menuntut jawaban saat bertanya : nanti bagaimana Bapak sama Ibu kalau kamu harus ikut pasangan kamu dan tinggal di sini ?. Bagaimana kalau mereka sakit ?. Saya agak terhenyak sebenarnya dengan dua statement itu. Statement pertama, kok ya rasa-rasanya seperti menelantarkan orang tua, dan rasa-rasanya menjadi pembenaran untuk keputusan yang sudah saya ambil. Statement kedua, lebih seperti justifikasi : kamu durhaka sekali jadi anak!. Yang kemudian membuat saya berpikir, apa iya saya harus ada di dekat orang tua saya supaya saya dan orang tua saya lebih tenang. Dan itu berarti, apa yang saya jalani di sini harus saya lepaskan dan menjalani proses yang lain di sana ?. But, I believe that my parents wants me happy. That’s what they have been doing for all the time.

Saya mengingat cerita-cerita teman saya yang sudah berkeluarga, dengan latar daerah asal yang berbeda. Sebagai perempuan, kebanyakan mereka akan mengikuti di mana pria-prianya memutuskan untuk berlebaran. Kebanyakan pun, memutuskan berlebaran di tempat si pria. Ada role play lebaran shift-shif-an, tahun ini di rumah si pria, tahun depan di rumah perempuan. Mungkin tergantung negosiasi yang dibumbui rayuan,rajukan, atau adu mulut kecil. Atau mungkin seperti Mamak saya, rasanya jarang sekali kami melewatkan Idul Fitri di rumah Opu (orang tua Mamak), walaupun Puang (ibunya Bapak) sudah meninggal. Mudik biasanya pas hari kedua lebaran, karena jaraknya memang tidak jauh, hanya 3 jam perjalanan. Yaa, that’s their story. Saat membayangkan moment seperti itu, yang terlintas adalah adegan komentar Mamak saya : Iya, tahun ini Riska ndak lebaran di rumah. Di rumah suaminya. Pfft.! Yeah, on the time like that, I believe that my Mamz gonna miss me so, so do my Bapak would. Ternyata ohh ternyata, meskipun lebaran itu event dua kali dalam setahun, banyak hal yang bisa bikin kepikiran. Dan salah satu yang sempat saya bayang-bayangkan before decide to get merried someday.

Dan seiring tulisan ini mengalir, saya kemudian punya cara memandang kasih sayang Mamak dan Bapak saya kepada anak-anaknya. Yaa, lewat moment lebaran ini. Saya tahu, mereka pun pasti sama merasa tidak lengkapnya seperti saya. Tapi saya tahu, dalam keterbatasan anak-anaknya untuk ada di dekat mereka, mereka percaya, hal itu mendekatkan anak-anak mereka kepada kebaikan, kebahagiaan. At least, this would give them some hopes..Harapan bahwa anak-anak mereka, akan bahagia dengan jalannya masing-masing.

Tahun ini, Mamak dan Bapak kesampean rejekinya untuk ibadah haji. Semoga saat kembali ke rumah, keduanya bisa menajdi haji mabrur, menjadi manusia yang senantiasa memanusiakan, menjadi hamba Allah yang lebih baik lagi. Amin 🙂

I miss you Mamak, Bapak *hug*

Tips biar gak sedih lebaran di perantauan

Hari raya Idul Fitri memang paling afdhol buat moment berkumpul bersama keluarga. Mudik menjadi sebuah fenomena yang berangsur menjadi budaya untuk masyarakat urban kebanyakan di negara ini. Mudik tentu saja selalu menjadi moment yang ditunggu setiap tahunnya.. Banyak motivasi.. Mulai yang bener-bener kangen pengen kumpul bersama keluarga besar sampai ajang show off kesuksesan setelah setahun merantau dan pulang kembali.

Buat saya, mudik itu saat paling pas melepas kangen sama orang tua dan adek-adek saya, kongkow-kongkow bersama sahabat, ketemu keluarga besar sampai yang paling tidak boleh terlewatkan menikmati makanan rumah yang entah kenapa selalu enak sesederhana apa pun masakannya.

Tahun ini, unfotunately.. menjadi tahun ke dua saya tidak merayakan Idul Fitri bersama keluarga di rumah. Rumah yang terbilang jauh karena harus ngerogoh kocek dalem-dalem buat pulang perginya. Ditambah lagi, awal bulan kemarin baru abis mudik di awal ramadhan dan bulan depan harus jadi anak baik karena special request mamak dan bapak mengharuskan saya pulang.

Pertama merasakan lebaran tidak bersama keluarga itu, rasanya sedih. Hanya bisa maaf-maafan via telepon. Untung sekarang sudah ada teknologi canggih bernama handphone. Kalau mesti pake surat, kebayang gak sih buat ngucapin minal aidzin wal faidzin aja mesti nunggu berhari-hari bahkan berminggu. Keburu momentum lebarannya basi. 🙂

Kalo keinget.. pertama kali ituu rasanya sedih sekali. Lebaran harus numpang dikeluarga orang. Saat orang bisa sungkeman langsung ke mamak bapak dan saudara-saudaranya saya cuma bisa mewek. Apalagi pas udah nelpon mamak sama bapak. Gak kukuh nangisnya. Hehehe. Yaa yang pertama-pertama kan emang suka susah.. Setiap orang butuh kalibrasi rasa saya pikir. Tahun ini, tidak berlebaran di rumah bukan menjadi hal yang harus disedihkan lagi. Well, sedih siiih.. Tapi yaa I can bear it all 😀

Tips biar gak terlalu sedih berlebaran di tempat rantau :

  • Jangan sampai lebaran sendirian

Suasana seperti ini itu memancing banget rasa-rasa homesick keluar. Kebayang gak sih lebaran sendirian itu rasa sepinya kayak apa. Pas lagi sholat iya rame, nah pas pulang ke kamar, suasana rumah yang biasanya riuh pas lebaran tapi untuk kita berubah menjadi hening. Gak ada masakan yang masih anget, ketawa-ketiwi ledek-ledekan atau tangis-tangis haru penghapus dosa pas sungkeman sama orang tua. So don’t dare do this for lebaran day. Usahain aja punya temen walopun sebiji. Ikut kumpul-kumpul sama teman perantauan yang juga gak berkesempatan pulang. Seenggaknya, gak sepi-sepi amat lah hidup pas lagi lebaran.

  • Pikirkan mau masak apaan

Nah, lebaran kan identik banget tuh sama yang namanya makanan melimpah ruah. Daripada abis pulang sholat ied cuman bisa cengo’ aja. Mending sebelum lebaran sediain resep-resep yang sekiranya menggugah selera. Kalo saya sih, karena memang senang nyoba-nyoba masak dan makan,  sebelum lebaran saya udah merencanakan mau masak apa aja. Dan mostly pilihan masak saya adalah masakan yang biasa ada di rumah pas hari raya. Misalnya masak kari ayam, ayam goreng bumbu kecap, coto ato konro *oke dua yang dibelakang belum pernah dipraktekkan sama skali* dan gak lupa menyediakan ketupat kalo sempet beli di pasar. Heheh.

  • Sedia logistik dan cemilan

Lebaran di kosan, apalagi untuk daerah kampus bisa dipastikan semua sumber makanan akan tertutup pas lebaran. Jadi, sebelum lebaran tiba ada baiknya menjaga semua stok, makanan khususnya tetap tersedia di kamar. Mi instant sama telor kayaknya salah satu barang yang wajib nyetok tidak lupa mengecek tabung gas biar gak kehabisan pas lagi masak. Gak kebayang kan kalo udah H+2 ato 3 makanan hari lebaran udah pada basi dan buat makan beneran mesti naik angkot dua kali sampai ke kota *well ini ceritanya lagi ada di daerah kampus IPB Dramaga nun jauh dari kota :p *.

  • The most important thing : Don’t take it too serious

Apa yang kita rasa kan sebenarnya semua berasal dari pikiran kan yaa. Jadi, saat ada moment gak bisa lebaran sama keluarga. Yaa just take it easy. Keluarga itu tempatnya di hati. Mau jauh mau deket yaa kasih sayangnya akan tetap nyampai. Menurut saya sih begitu. Sebelum lo minta maaf, pintu maaf udah terbuka lamaaa sebelum itu. Selain itu, saya pikir akan selalu ada moment seperti ini, entah lo yang ninggalin keluarga atau lo yang ditinggal keluarga saat lebaran. Ada moment di mana, lo gak bisa di tiap tahunnya merasakan lebaran dengan orang tua lo karena tahun itu giliran lebaran di rumah mertua. Begitu juga sebaliknya.

  • The last : Keep praying

Tetaplah berdoa, semoga rejeki dalam bentuk pulang lebaran tahun-tahun berikutnya lancar. Jadi bisa tetap merasakan lebaran di rumah. Semoga tahun-tahun berikutnya tiket pesawat, bus dan kereta api gak makin mahal. Semoga buat masak coto dan konro bahan-bahannya juga gak makin mahal. Yaak! Semoga kita semua bahagia apapun kondisinya. Ameeen!

Pffttt! Dan entah kenapa pas nulis posting ini tiba-tiba ada aroma sop konro yang masih panas *oke ini halusinasinya sudah berlebihan*

Jadiii… manusia-manusia yang tidak berkesempatan mudik, selamat berlebaraaan. Mohon maaf lahir batin 🙂

Cooking is another getaway

This is Saturday…

Hari males dan hari yang akan sangat menyenangkan kalo cuman bisacook bergelung di kasur…

Tapi adakalanya bosen juga ternyata, ditambah kepala pening karena efek kelaparan sudah mengirimkan sinyal-sinyal meraung-raung ke otak…

So let me tell you a story about how I deal with cooking thing before a drwoned my self to never ending assignment this lately…

Waktu kecil, inget banget pas umur-umur masih SD kelas 1 apa kelas 2 gitu.. Gue belum tahu, kapan air yang dimasak di atas kompor dikatakan mendidih…

Mamz then told : kalo airnya udah banyak gelembung-gelembung naik, itu artinya udah mendidih..

Di sanalah gue, di depan kompor dengan berdiri di atas kursi menunggu air di panci berubah menjadi buih.. Well, kemudian akhirnya gue merasa bisa memasak air..

Pelajaran memasak pertama… Masak mi rebus sama goreng telor kalo gak salah… Makanan darurat yang gue rasa ada di setiap rumah tangga modern di Indonesia. Itu juga masih SD. Karena sering ditinggal Mamak dan Bapak bekerja, I used to cook to feed my self and my brothers. Bahkan ngedate di rumah dengan pacar pas jaman SMA pun gue empanin pake mie. Hehehe. Beruntunglah dia masih kasi komentar enak. Kalo komentarnya gak enak, kayaknya pas itu langsung gue putusin dah! hihi. Secara di date pertama udah cerewet aja. 😛

But then, masak kemudian menjadi salah satu aktivitas favorit gue… I love watch my mamz cook. Dan selalu pengen menyamai keahliannya dalam memasak, tapi sayangnya sampai sekarang belom bisa. I wish someday I could. To say that I fall into cooking-thing, its too early. Tapi dalam keadaan tertentu memasak menjadi kegiatan penghibur pelepas stress…
Mungkin someday, gue akan coba buka restoran kemudian mempengaruhi mamak gue buat jadi kokinya. |hmm well, durhaka banget, maksudnya mamak gue yang menentukan menu dan bahan2nya. Heheh|

Saat memasak you put many efforts into this thing. Mulai dari merencanakan mau masak apa, belanjanya, memilih-milih bahannya, sampai kemudian membersihkan bahan dan mulai meracik masakannya. Those things are enjoyable, for me. Dan makanya gue menganggap, gue mungkin termasuk salah satu korban konsep rumah tangga tradisional di mana mamak, opu dan tante-tante gue sudah mendoktrin sedari kecil bahwa a women meant to be wife then wife meant to be a chief who feed her family wholehearted *duileh bahasa gue* 😀 . But okay, I admit it.

I really enjoy cooking. Walopun sekarang sih gak rajin-rajin amat masaknya. Hari libur kalo lagi gak sibuk-sibuk amat dan lagi ngerasa pengen makan masakan sendiri gue memasak. As today, setelah lelah bergelung dengan selimut dan menamatkan satu novel didukung dengan lapar yang tidak biasa, gue bangun dan kemudian bergegas mandi, belanja, dan kemudian memasak. Masaknya gak perlu yang rumit-rumit macam coto makassar atau sop konro, cukup terong goreng bumbu kacang dan telor masak asam. Itu sudah cukup mengenyangkan buat gue seorang diri. 

So, I guess cooking is an alternative you should try to release you from stress, boredom, even an excessive anger. Its enough effective.