A fresh start begin with…

2017.

Kebanyakan orang akan menyusun resolusi, walaupun resolusi tahun-tahun kemarin belum semuanya kesampaian. For me, personally… I don’t have any resolution for this year. Merasa memulai tahun baru pun telat.

Mungkin dengan mulai menulis di blog ini lagi salah satu simbol saya memulai tahun baru saya. Oooh dan yang paling ingin saya bagi dengan tulisan ini sebenarnya, saya merasa memulai tahun baru ini dengan …. “BERBENAH” literally berbenah.

Saya membersihkan kamar, mengatur ulang buku-buku. Memisahkan buku sesuai dengan temanya. Buku yang saya pajang di meja adalah yang saya prioritaskan untuk saya baca dan buku yang telah selesai saya baca saya masukkan ke dalam kontainer. Membersihkan kotak obat dari obat-obatan yang sudah kadaluwarsa. Membuang kosmetik-kosmetik kadaluwarsa. Daaan akhirnya bisa membuang draft-draft proposal dan tesis yang tahun kemarin memenuhi kepala sampai mau pecah. Sampaii membersihkan kamar mandi dan memutuskan punya poni baru.

Saya pernah mengingat mbak Dee memposting sebuah buku di akun instagramnya. Buku tersebut kurang lebih membahas, tentang perilaku berbenah orang-orang. Akhirnya saya meng-googling kembali buku itu dan mendapat review mbak Dee di blog-nya. Buat saya, berbenah mungkin satu bentuk pelepasan stress yang biasa saya lakukan kalau sedang suntuk. Tapi ternyata, berbenah menurut buku tersebut bukan sekedar berbenah. Proses berbenah, jika diresapi mengajarkan banyak hal pada pelakunya.

Hari ini saya mungkin berbenah untuk sekedar mendapat meja yang layak untuk saya sebut workspace saya (biasanya meja ini penuh dengan berbagai tumpukan file dan buku dan toples cemilan), tapi harapannya dari meja yang lebih menyenangkan tahun ini saya bisa lebih banyak membaca dan lebih banyak menulis.

Happy new year, yorobun!

Too busy to write something. Its a busy week to finish the thesis. Wish me luck. Away frok laziness and dullness 😊😊😊

Fibroadenoma Mammae Multiple (FAM)

Jadi berniat nulis postingan ini gegara aplikasi TimeHop tiba-tiba popping up notifikasinya daan ternyata setahun yang lalu di waktu yang sama saya masih terbaring lemes di rumah sakit dalam rangka recovery habis operasi. Tahun lalu bisa dibilang tahun yang cobaannya lumayan buatΒ saya pribadi. Ceritanya, di sekitar bulan April saat saya sedang tugas di luar kota tanpa sengaja saya menyadari ada benjolan yang agak asing di bagian payudara. Saya kemudian mengingat-ingat. Beberapa tahun yang lalu sebenarnya saya pun sadar akan keberadaan benjolan tersebut, tapi saya masih cuek saja karena ukurannya masih terbilang kecil. Akhirnya sedikit panik, saya mencoba mem-googling di internet tentang benjolan di payudara. Berbahaya atau kah tidak dan langkah apa yang harus saya lakukan. Pada awal pencarian, kebanyakan yang muncul adalah berita-berita seram yang mengarah pada tumor ganas dan kanker. Saya agak sedikit ngeri, berhubung beberapa orang yang saya kenal di keluarga saya ada yang pernah menderita tumor dan kanker payudara. Dari hasil browsing, akhirnya saya bisa mengetahui apa yang harus saya lakukan pertama setelah memastikan sendiri keberadaan benjolan tersebut. Ada teknis sederhana yang bisa dilakukan sendiri sekedar untuk pre-check up, istilahnya SADARI. Caranya bisa dilihat di sini. Setelah memastikan ada benjolan yang asing dan membicarakan dengan orang tua saya, saya akhirnya memberanikan diri ke rumah sakit terdekat untuk diperiksa. Kebiasaan masyarakat kita pada umumnya, saat ada keluhan apalagi keluhan yang mengarah ke penyakit-penyakit berbahaya malah cenderung ditutupi karena terlalu takut menghadapi hasilnya. Saya pun pada awalnya merasa demikian. Tapi untuk hal ini tentu saya tidak bisa bertaruh dengan duduk diam saja, saya putuskan untuk menghadapi ketakutan saya terhadap apapun hasil pemeriksaan yang akan keluar nanti.

Hari itu, saya ke rumah sakit bagian dokter umum untuk meminta rujukan ke bagian radiologi (karena untuk ke radiologi ternyata gak bisa langsung main janjian dengan dokter radiologi, harus ada pengantar dulu dari dokter umum). Dokter umum memeriksa saya, dan juga meng-iya-kan keberadaan benjolan asing di payudara saya. Hari berikutnya, saya menemui bagia radiologi. Pemeriksaan yang akan saya jalani adalah pemeriksaan Ultrasonografi. Selama ini, pikiran saya yang sempit hanya mengira bahwa pemeriksaan USG itu hanya dilakukan oleh ibu hamil hehe. Ini pertama kalinya saya menjalani pemeriksaan USG. Agak malu pada awalnya, tapi yaa jadi pasrah aja hehe. Pemeriksaan dilakukan persis seperti adegan-adegan sinetron ato drama korea yang nontoni ibu hamil, cuma bedanya ini yang diobservasi adalah payudara sampai ke ketiak (so you better shaving before do it LOL).

20150911_085431

Hasil USG Perdana. You can spot the malignant, they looks like “kawah bulan”

Dari hasil USG perdana, ternyata yang terlihat tidak hanya satu benjolan. Benjolan yang terasa itu, memang benjolan yang ukurannya paling besar (diameter sekitar 20 mm), ada beberapa benjolan kecil tersebar di payudara kanan dan kiri. Masih tidak teraba karena ukurannya memang sangat kecil (diameter > 10 mm – 16 mm). Dari hasil radiologi, saya dirujuk untuk segera berkonsultasi dengan dokter bedah (nah kan udah mulai serem T.T). Akhirnya saya menuruti saran dokter, dan segera membuat janji konsultasi dengan dokter bedah. Sesuai jadwal yang disepakati, saya bertemu dengan dokter bedah. Dia memeriksa saya dan melihat hasil USG. Hari itu juga dokter menyarankan operasi (duarrrr..! T.T). Menurut dokter, kalau dilihat dari penampakan USG-nya sih tumor (istilah dokter) yang saya derita masih bersifat jinak, jadi semakin cepat diangkat, akan semakin baik. Hari itu sempat sudah akan menentukan jadwal operasi tapi kok yaa hati masih teu puguh. Jadilah saya pulang dulu dengan alasan mau berkonsultasi dengan keluarga dulu. Setelah berbincang dengan keluarga dan beberapa teman, akhirnya saya memutuskan untuk pindah rumah sakit yang agak jauh. Agak kurang sreg juga sih sebenarnya dengan layanan dokternya yang seolah tidak memberi alternatif lain selain operasi. Saya pindah ke salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, sesuai saran teman saya, saya mencari ahli onkologi (dokter yang ahli dalam bidang per-tumor-an lah kira-kira). Setelah mencari-cari informasi di rumah sakit ini (atas rekomendasi salah satu teman juga yang pernah menderita penyakit yang sama), saya memutuskan untuk membuat janji konsultasi. Nama dokter saya Dr. Naland. Kakek-kakek Tionghoa yang suka manggil saya (well, maybe most her young age patienst) dengan Non. Konsultasi pertama, saya membawa hasil USG dari rumah sakit sebelumnya. Tapi karena hasil fotonya kurang clear, opa dokter merujuk saya ke bagian radiologi rumah sakit ini. Hari itu juga saya ke bagian radiologi dan di USG kembali. Well, beda rumah sakit beda kualitas saya pikir, dan beda ongkos juga πŸ˜€

?????????????

Pemeriksaan USG saya keluar dan saya kembali mengkonsultasikan hasilnya kepada dokter onkologi saya. Dari hasil USG, penampakannya saya menderita FAM (Fibroadenoma Mamae). Sesuai penjelasan dokter, intinya benjolan yang ditemukan di payudara saya termasuk tumor jinak. Sekali lihat, opa dokter langsung meledek ” pasti males makan sayur yaa?”. Crap! kok ketahuan heheh. Saya memang bukan pendoyan sayur sejak kecil. Malah kalau makan saya prefer makanan saya kering, tanpa kuah. Banter-banter paling pake kuah ikan masak. Kalau harus makan sayur, saya cuma makan sayur daun-daunan dan paling gak suka sayur batang-batangan hehe.

20150911_085541

FAM yang ada di payudara kanan. Yang keraba cuma 1 tapi ada 3 yang terdeteksi di USG

Dokter menjelaskan kalau penyakit ini memang banyak ditemukan pada wanita di usia awal 20-an. Bisa jadi karena pengaruh hormonal yang diakibatkan oleh pola hidup yang dijalani termasuk di dalamnya pola makan. Katanya orang yang mengidap peyakit ini keseringan mengkonsumsi makanan yang mengansung MSG (monosodium glutamat) atau kebanyakan makan junk food.Β Tetapi kata opa dokter, alternatif paling baik memang dioperasi supaya bisa benar-benar dipastikan apakah tumor tersebut ganas atau tidak. Enaknya, setelah saya menanyakan apakah ada pilihan lain selain operasi, opa dokter memberikan penawaran untuk menjalani terapi obat-obatan selama kurun waktu tertentu. Saya tentu saja memilih alternatif itu. Setidaknya masih ada beberapa waktu untuk menjalani beberapa laternatif pengobatan yang memungkinkan untuk tidak dioperasi. Membayangkan dibelek-belek aja saya udah seram hiii. Akhirnya, selama 4 bulan berikutnya saya rutin check up tiap bulan dan menkonsumsi anti oksidan serta vitamin E dosis tinggi. Ini untuk menghambat pertumbuhan si tumor, yaa lebih bagus lagi kalau bisa menciut. Di luar konsumsi obat dari dokter, atas saran beberapa teman dan keluarga, saya pun mencoba mengkonsumsi obat-obatan herbal seperti ekstrak kunir putih, bawang arab/dayak, sarang semut bahkan mencoba menjadi vegetarian (yang hanya long last 3 bulan gara-gara tidak bisa mengatur menu dengan baik dan berakhir dirawat di rumah sakit karena thypus πŸ˜€ ).

Hasil USG setelah 4 bulan USG pertama.

Hasil USG setelah 4 bulan USG pertama.

Empat bulan berikutnya saya melakukan USG lagi, tepatnya di bulan Agustus. Oia, selain USG, pada pemeriksaan pertama saya juga melakukan pemeriksaan Thorax. Dari hasil USG kedua ini, ternyata tetap terjadi penambahan ukuran tumor dari USG pertama. Sesuai kesepakatan diawal, kalau tidak ada perubahan (tentu saja harapannya timornya menciut) maka saya bersedia menjalani operasi. Selain USG, saya juga menjalani pemeriksaan Mammografi (ini kayaknya yang paling gak enak, lebih gak enak dibanding pengambilan sample darah di Lab 😦 ). Setelah konsultasi, akhirnya disepakati saya akan menjalani operasi di tanggal 8 September 2014. Saya pun hari itu memulai semua proses yang harus dilakukan, mulai dari membooking kamar (its approximately a week before the operation), tes sample darah dan lain-lain. Dokter menjelaskan kalau operasi yang akan saya jalani memerlukan pembiusan total (in some cases, tumor seperti saya cukup diangkat dengan bius lokal). Operasi ini tidak akan mempengaruhi fungsi payudara seperti menganggu fungsi menyusui. Jadi saya merasa aman-aman saja.

A week later, saya kembali ke rumah sakit dengan segala persiapan perawatan pasca operasi. Ditemani bapak dan adek-adek dan gak ketinggalan si sahabt tercinta (yang tadinya ngarep bisa ketemu sebelum masuk ruang OP tapi gak bisa nyampe ternyata hehehe). Saya masuk ke kamar perawatan terlebih dahulu (karena ini rumah sakit swasta yang agak oke, jadi kelas III pun fasilitasnya sudah sangat baik menurut saya), mengganti baju seperti di sarankan suster. Dan sudah puasa sejak pagi. Hiks. Sekitar jam 11, dokter anastesi datang menjelaskan tentang anastesi seperti apa yang akan saya dapatkan di ruang operasi, kapan anastesinya akan dimulai dan perkiraan saya akan sadar dari anastesi, setelah itu saya disuntikkan semacam obat antibiotik untuk tes alergi. Pukul 14.00 WIB, perawat datang dan saya siap di bawa ke ruang OP (padahal jadwal operasinya pukul 15.00 WIB). Perasaan masih santai, tapi karena melihat tatapan khawatir Bapak, jadi ikut deg-degan. Masuk ke ruang OP masih bisa senyum-senyum dadah-dadah ke penjaga-penjaga saya. Ternyata, saya tidak langsung masuk di ruang OP. Saya mampir dulu di ruangan semacam ruang transit. Sayangnya pas nengok saya sempat melihat ada banyak darah (hoosh, blood really not my things). Akhirnya sepanjang jalan saya merem. Sampai tiba di shelter saya sendiri. Seorang suster pria datang, memasangkan infus dan meminta saya mengganti baju (pake baju ijo-ijo). Suster-susternya ramah, pada ngajak bercanda, mungkin karena sudah melihat muka saya pucat. Dalam hati sih udah segala macam apalan quran dirapalin. Sekitar 20 menit sebelum pukul 15.00 WIB, dokter saya keluar dari ruang bedah yang sesungguhnya, dia dikabari oleh suster bahwa pasien selanjutnya sudah ada (who is saya hehe). Si opa dokter ternyata baru selesai operasi juga. Dia pun menghampiri saya, melihat kembali hasil USG dan kemudian menggambar (literally on the area to operate by spidol) sisi mana yang harus dibelek. Setelah opa dokter pergi, dokter anastesi saya pun datang, menyuntikkan cairan yang akan membuat saya terbang entah kemana untuk beberapa saat. Semakin ke sini semakin mengantuk.. bacaan quran yang saya rapalin pun kok rasanya makin kacau hahaha. Daaan, akhirnya gelap……………………

Saya terbangun setengah sadar, membuka mata dan melihat suster sedang menulis tapi gak punya daya buat ngomong. Sepertinya mbak suster memperhatikan gerak-gerik mata saya dan akhrinya menghampiri, melepaskan selang (yang saya gak sadar dari tadi) dari mulut saya, diganti dengan selang oksigen. First thing i was aware, Alhamdulillah ya Allah saya masih bangun. Beberapa saat kemudian, saya pun dipindahkan kembali ke kamar perawatan saya. Daan ternyata saat itu sudah pukul 18.00 WIB lebih. Keluarga dan sahabat sudah ramai. Ada bapak yang langsung mendekati. Ada adek-adek, sahabat-sahabat, kakak serta tante. Katanya sih malam itu saya meracau aneh-aneh. Apalah yaa, namanya juga masih setengah bius. Setiap orang saya tanyain udah makan apa belum πŸ˜€ (cpcpcp even dalam keadaan setengah sadar, yang gue ingat adalah makanan, gak ada romantis-romantisnya macam di sinetron hahah). Dalam 5 hari perawatan, di hari pertama setelah operasi saya didatangi oleh ahli nutrisi yang memberikan penjelasan makanan apa saja yang akan diberikan kepada saya 5 hari ke depan dan makanan apa saja yang bisa mendukung proses pemulihan saya (disaranin banyak makan tomat, huhuhu). Setiap hari ada dokter jaga yang bergantian shift menanyakan kabar dan keluhan. Dokter saya sendiri dalam 5 hari berkunjung sebanyak 2 kali. 2 hari pasca operasi dan sehari sebelum saya kembali ke rumah. Overall, pelayanan rumah sakit ini sangat baik dan sangat membuat nyaman pasien. Ada suster yang memandikan tiap pagi dan sore, menu makanan bisa milih, kamar dibersihkan 2 kali sehari daan susternya pada responsif. Selama di rumah sakit pun banyak teman yang menjenguk, dijengukin Ibu (panggilan buat calon mertua) yang akhirnya jadi kesempatan buat ngenalin ke Bapak hehehe.

Pemulihan pasca operasi saya cukup lama. Sekitar sebulan saya baru bisa beraktifitas normal. 2 minggu saya habiskan di rumah Tante saya di Tanjung Priok untuk memudahkan makan dan perawatan saya (terima kasih yaa tanteee :* ), baru setelah itu saya kembali ke Bogor. Itu pun tidak bisa langsung beraktifitas normal, saya istirahat 1 minggu dulu tanpa ke kampus dan mengerjakan apa pun. Bulan-bulan berikutnya saya habiskan dengan berkonsultasi tiap bulan dengan dokter saya. Jadi saya masih harus bolak balik ke Jakarta sekali sebulan. Masih mengkonsumsi obat seperti sebelumnya cuma kali ini ditambahkan obat salep untuk luka operasinya. Yaaang unfortunately, serapih apa pun jahitannya tetap berbekas hiks hiks. Proses pengobatannya kurang lebih 1 tahun 1 bulan karena saya terakhir check up di bulan Mei kemarin dan sudah tidak ada keluhan nyeri lagi jadi kunjungan ke dokter saya akhiri. Apakah mungkin penyakit ini kembali lagi walaupun sudah operasi? Jawabannya tetap IYA. Jadi yang harus dilakukan adalah menjaga pola hidup sebaik mungkin, menjaga pola makan sebaik mungkin, dan pemeriksaan teratur untuk deteksi dini.

Setahun perawatan tentu menghabiskan materi yang cukup banyak (operasinya sendiri hampir IDR 23 juta belum konsultasi yang tiap kunjungan menghabiskan minimal IDR 500ribu sampai IDR 2juta), waktu dan tenaga juga perasaan hiks hiks. Tapi yaa cobaan adalah cobaan, tinggal dihadapin aja. Dibalik kita yang merasa menderita, masih ada orang-orang yang lebih menderita yang mungkin kita tidak pernah tahu. Intinya, KESEHATAN ITU PENTING..! Dan yang bisa menjaga tubuh kita ya kita sendiri.

Tulisan ini hanya untuk berbagi pengalaman. Berbagi cerita. Syukur-syukur bagi teman-teman wanita bisa menimbulkan kesadarannya untuk memeriksa diri sendiri sejak dini. Dalam banyak kasus, tumor jinak seperti ini disepelekan, padahal potensinya untuk berubah menjadi tumor ganas cukup tinggi kalau tidak diperlakukan dengan tepat.

Sore yang lagi asik.

Saya benar-benar menikmati sore hari beberapa hari belakangan ini.
Sepertinya purnama malam itu dan pertemuan venus dan jupiter memberi sisa-sisa keindahan untuk dinikmati di sore hari.
Yang kemudian saya lakukan adalah memaksimalkan jalan kaki dari kampus menuju ke kosan.

image

I got this picture above on my way home.
The sun bright shiny, the air felt warm. Just a perfect afternoon.

This afternoon the weather still the same, tough cloudy sky shadowing some spots.
I’m on the train. Enjoying this enjoyable commutter line,Β  which is rare to be happened.

Praise the Lord for the day. :):):)

Wow! Turning 27.

image

I am oficially 27 today.
Agak serr serr gimana gitu yaa melihat angkanya 😂😂😂
Its mean.. target to be married telah molor 2 tahun…
Target thesis udah molor setahun…
Daan target-target yang lain pun pada ikutan molor…

But lets forget about it today!

I woke up this morning with a big big smile on my face.
27 years. Its been amazing journey of life. And i’m anticipating for the forthcoming journey.

Apa lagi yang bisa tidak disyukuri.
Kalo mengingat kaleidoskop tahun-tahun ke belakang…
Bisa belajar dan bekerja bolak balik ke tanah Papua yang gak semua orang punya kesempatan.
Surrounded by amazing teachers, friends, and family…
Merasakan Bapak sakit dan akhirnya tahu rasanya cemmana anak2 rantau macam saya bersaudara tiba2 dapat ultimatum untuk segera pulang ke rumah. There was so much unexplainable feeling that time.
Bisa menginjakkan kaki ke Raja Ampat. Bertemu keluarga baru di Sorong. Even terdampar di bandara Manado.
Dapat kesempatan main di Taman Nasional Komodo dan 2 days trip around Bali.
Masih diberi kesehatan dan rejeki untuk menjalani hari.

There are so much praying for me today.
I pray the same praying for them.
And this sweet day closed by a little surprised party by my 2 big boys.

image

Us and the birthday cake!

image

image

Puang Sumeng

Puang Sumeng….

20150424_094400Begitu kami para cucu selalu memanggil dia. Ibu dari Bapak saya. Nama aslinya Andi Sumeng. Hanya itu yang kutahu. Kalo tidak salah ingat dia punya beberapa saudara perempuan.

Perawakannya tinggi, kulitnya gelap, rambutnya bergelombang dan selalu dicepol rapi. Tiap pagi, siang dan sore selalu ada kopi hitam kental dan rokok kretek.

Puang ini yang merawat saya dan adik saya yang kedua. Dia meninggal saat umur saya 4 atau 5 tahun. Karena serangan jantung. Saya masih ingat waktu mendapat kabar meninggalnya si Puang. Bapak, Mamak, saya dan adik saya sedang dalam perjalanan dari Larompong (kampung Mamak di daerah Luwu) menuju rumah (rumah kami di Sengkang, sekitar 2 jam dari Larompong). Sesaat sebelum sampai ke rumah, kami bertemu dengan sepupu Bapak sedang membawa kresek merah berisi kain kafan. Mobil pun mengejar motor mereka, dan Bapak bertanya siapa yang meninggal. Tante saya pun menjawab : Puang Sumeng meninggal. Detik kemudian yang saya tahu, Mamak menangis dan menyuruh supir untuk menambah kecepatan. Saat itu saya bahkan tidak sempat melihat apa reaksi Bapak. Saya bahkan belum mengerti apa arti “meninggal”. Yang saya tangkap, meninggal itu sesuatu yang membawa kesedihan.

Kami tiba di rumah, dan memang rumah sudah ramai. Orang-orang sudah berkumpul. Kami naik ke rumah, langsung menuju kamar Puang. Kamar tempat saya biasa tidur tiap malam. Yaa, Puang teman tidur saya setiap malam. Waktu itu saya tidak mengerti kenapa semua orang menangis. Hal terakhir yang saya ingat, sebelum Puang dibungkus kain putih, saya diminta mencium Puang. Puang tidur dengan tenang. Matanya terpejam dengan tenang. Tidur seperti biasanya.

Biasanya Puang datang menyapa, saat demam panas melanda. Hampir setiap demam panas, mereka datang menyapa. Entah kenapa kemarin saya merindukan Puang. Saya menggali memori-memori yang saya ingat pernah saya habiskan bersama Puang, di awal-awal otak saya bisa mengingat memori.

Saya ingat, tiap sore biasanya saya dan Puang menghabiskan sore di teras rumah. Saya ingat suatu sore pernah diisi dengan Puang dengan kopi dan rokoknya, dan saya dengan sepiring potongan tebu yang sudah disiapkan Puang. Saya juga ingat, suatu sore pernah diisi dengan pisang goreng panas buatan Puang, disajikan dengan mentega dan gula pasir juga teh panas dan tetap kopi hitam kental untuk dia.

Saya ingat pernah melihat Puang shalat siang hari. Dan saya mengamati gelas kopinya yang kemasukan lalat. Saya ingat Puang yang mengayun adik kedua saya yang masih kecil dan suka sekali menangis.

Saya ingat Puang senang membuat manisan pepaya. Manisan yang dibentuk lucu-lucu.. ada bulan ada bintang. Manisan itu biasanya dibuat di panci kuningan yang besar. Dan semenjak Puang meninggal, saya tidak pernah lagi mencicipi manisan itu.

Saya ingat pernah ikut Puang ke rumah keluarga yang meninggal di desa, dan ke sana kami harus naik perahu. Saya melihat orang bergumam sambil bermain bulir jagung. Saat dewasa baru saya tahu, kalau bulir jagung itu dipakai untuk berdoa, gumaman itu adalah doa.

Saya ingat tiap malam sebelum tidur, Puang akan “mencapa’-campa'” saya sampai saya tertidur.

Tapi saya lupa suara Puang, saya lupa bagaimana intonasi dia bicara. Yang saya ingat sebatas potongan-potongan memori penanda dia pernah hadir di hidup saya.