Untitled (2)

Hujan entah kenapa rasanya sendu. Rintiknya hampir sama seperti kemarin. Aku menatap red jadevine yang sedang berbunga di pargola menuju halaman belakang rumah. Cerah warna hijau dan merah yang terlihat sangat kontras dengan pemandangan langit yang menjadi latarnya. Seperti hatiku. Sedang mendung. Biasanya hujan menjadi waktu yang kunantikan. Duduk di sofa merah yang sama, memandangi pemandangan yang sama, secangkir coklat panas dan novel. Hari yang demikian akan serupa surga. Tapi tidak untuk saat ini.

Aku hanya duduk, merenung. Memandang menembus kaca besar menuju ke pargola. Tapi ke mana arahku memandang sesungguhnya bukan tempat di mana pikiranku mengarah. Hujan ini berbeda dari hujan kemarin yang membuat aku merasa bahagia. Hujan ini justru membawa kesenduan. Semakin menegaskan kesedihan yang terasa.

“Gas, mau kamu apa sih? “. Lintang bertanya gemas.

“Kita kayaknya perlu mikir lagi tentang rencana kita.” balas Bagas.

“Mikir gimana ?”

Bagas terdiam, hanya memainkan makanan di hadapannya dengan tatapan bosan.

“Kayaknya sekarang aku lagi butuh sendirian. Gak terikat dengan siapa pun dan apa pun.” sahutnya kemudian.

Lintang terpaku mendengar jawaban Bagas. Badannya tiba-tiba kaku. Matanya mulai panas, sedikit lagi provokasi dari Bagas sudah pasti dia akan menangis.

“Lintang. Just leave me alone for a while. Bisa kan?” Bagas mencoba memecah keheningan.

“Kenapa?” Lintang mencoba bertanya sebisa mungkin membiaskan getaran dalam suaranya.

Bagas menghela nafas panjang.

“Aku gak tau. Hubungan ini terlalu flat buat aku. I’m sorry to say but, it feels that my feel toward you has gone. Aku juga gak ngerti Lintang kalau kamu nanya kenapa. Ini bukan salah kamu, ini hanya perasaan aku. So let me fix this first, let me fix my self first. Aku hanya perlu waktu untuk berpikir sendirian”.

Aku masih bergeming di posisi yang sama. Menatap ke arah pargola sambil menghela nafas panjang. Pertemuan terakhir dengan Bagas walaupun sudah berlalu hampir sebulan masih tetap membawa kesedihan. Hampir sebulan juga tidak ada perkembangan berarti dari diskusi kami. Sebenarnya apa yang terjadi. Sampai saat ini pun aku masih merasa linglung. Rasanya tidak nyata. Apa bisa perasaan seseorang bisa menghilang begitu saja ?. Tapi kenapa ?. Perasaanku bercampur aduk sebenarnya. Kecewa. Sedih. Marah. Entah yang mana yang paling menguasai. Dan yang paling membuat frustasi karena aku sama sekali tidak tahu jawaban dibalik keputusan Bagas itu. Yaa, dia memang memberi jawaban. Tapi jawaban yang tidak bisa kupahami. Lima tahun kurasa waktu yang cukup panjang untuk mengenal satu sama lain. Tapi sepertinya waktu selama itu tidak cukup membuat dia  terbiasa dengan keberadaan aku di sisinya. Dan pahitnya lagi, pembicaraan ini tiba-tiba muncul seminggu sebelum rencana pertemuan dengan orang tuaku. Well, apalagi kalau bukan omongan akan segera merencanakan pernikahan.

 

Advertisements

Untitled (yet)

Dia melangkah gontai memasuki ruang baca yang selalu menjadi spot favoritnya. Duduk terpekur di sofa merah berbentuk balai yang ada di dekat jendela kaca besar di ruangan itu. Sesekali dia menghembuskan nafas panjang. Seolah semakin sering dia melakukannya, semakin banyak beban pikiran yang terangkat darinya. Dia tahu, semakin lama dia diam kepedihan yang dia pendam akan semakin menumpuk dan membusuk. Tinggal menunggu waktu saja kapan dia akan lepas kendali dan menghancurkan semua yang telah dia bangun selama ini.

Deru mobil terdengar baru saja memasuki garasi. Dia semakin ciut. Semakin tak ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Terdengar suara pintu depan dibuka. Dia menunggu sampai orang yang masuk itu memanggil namanya seperti biasa. Tidak ada suara, hanya langkah kaki gontai yang terdengar, menaiki satu per satu anak tangga. Rumah itu cukup besar untuk dihuni oleh mereka berdua. Apalagi dalam keadaan saling mendiamkan satu sama lain seperti saat ini.

Lintang dan Bagas.