Untitled (yet)

Dia melangkah gontai memasuki ruang baca yang selalu menjadi spot favoritnya. Duduk terpekur di sofa merah berbentuk balai yang ada di dekat jendela kaca besar di ruangan itu. Sesekali dia menghembuskan nafas panjang. Seolah semakin sering dia melakukannya, semakin banyak beban pikiran yang terangkat darinya. Dia tahu, semakin lama dia diam kepedihan yang dia pendam akan semakin menumpuk dan membusuk. Tinggal menunggu waktu saja kapan dia akan lepas kendali dan menghancurkan semua yang telah dia bangun selama ini.

Deru mobil terdengar baru saja memasuki garasi. Dia semakin ciut. Semakin tak ingin beranjak dari tempatnya sekarang. Terdengar suara pintu depan dibuka. Dia menunggu sampai orang yang masuk itu memanggil namanya seperti biasa. Tidak ada suara, hanya langkah kaki gontai yang terdengar, menaiki satu per satu anak tangga. Rumah itu cukup besar untuk dihuni oleh mereka berdua. Apalagi dalam keadaan saling mendiamkan satu sama lain seperti saat ini.

Lintang dan Bagas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s