Touched Down Tanjung Puting National Park

Ada yang sudah pernah membaca Partikel-nya Dee Lestari ?

Well, mungkin akan ada yang bertanya, apa hubungan Partikel-nya Dee Lestari dengan postingan yang tertunda lama ini.

I like to read novel, a lot.

Membaca novel bisa membawa saya menjelajah kemanapun tulisan-tulisan itu mengalir.

Partikel salah satu novel favorit saya (most of Dee’s writing are my favourites 😀 ).

Dalam beberapa halaman buku tersebut, saya dibawa terjun ke hutan belantara Kalimantan, tepatnya di Taman Nasional Tanjung Puting. Setelah membaca halaman demi halaman tentang Tanjung Puting, dalam hati saya berkata : Suatu hari nanti, saya pasti bisa ke sana..!

Mungkin seisi semesta saat itu sedang berkonspirasi dengan manisnya sehingga bulan November tahun 2012 kemarin saya berkesempatan berkunjung ke Taman Nasional Tanjung Puting. Free! and I was charged! *grinning*

Oke, jadi ceritanya ke Tanjung Puting waktu itu adalah semacam perjalanan dinas untuk kegiatan salah satu instansi pemerintah.

Hari itu, untuk menuju ke Tanjung Puting, kami harus menempuh perjalanan dari Jakarta (Soekarno Hatta) – Pangkalan Bun (Iskandar) dengan pesawat Trigana Air selama kurang lebih 1 jam 10 menit.

Hari pertama dan kedua perjalanan kami habiskan di Pangkalan Bun, karena data-data yang dibutuhkan harus diakses di kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting.

Pangkalan Bun sendiri adalah ibu kota Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah. Kota kecil ini merupakan kota yang cukup vital di Kalimantan Tengah. Memiliki bandar udara (Badar Udara Iskandar) dan pelabuhan (Pelabuhan Kumai) sendiri di dalam kotanya.

Di kota Pangkalan Bun, kita tetap bisa menikmati wisata yang menarik seperti serangkaian wisata kuliner dan berkunjung ke istana kuning.

Makanan yang paling saya senangi saat di Pangkalan Bun adalah ikan patin bakar. Ikan patin ini berbeda dengan ikan patin yang biasa diternakkan. Ikan patin-nya dibeli dari nelayan-nelayan sugai. Rasanya benar-benar gurih. Sebagai pelengkap, ikan patin bakar biasanya disajikan dengan sambel mangga dan sambel terasi ditambah lalapan berupa daun singkong rebus, mentimun dan terong bakar.

Ikan Patin Bakar

Istana Kuning adalah salah satu objek wisata sejarah dan budaya di kota Pangkalan Bun.

Namanya Istana Kuning tapi dari corak bangunannya sama sekali tidak di dominasi oleh warna kuning. Istana ini sebenarnya bernama Istana Indra Sari Keraton Lawang Kuning Bukit Indra Kencana. Panjang banget kan..!

Mungkin biar lebih komunikatif, pemerintah kemudian menamakan istana ini sebagai Istana Kuning, dan perlu diingat bahwa kuning merupakan warna keramat bagi masyarakat Kotawaringin Barat.

Dari cerita kerabat kerajaan yang kebetulan menjadi pemandu kami hari itu, Istana Kuning ini dibangun pada tahun 1806 oleh Sultan Imanuddin di Kutaringin Baru, Pangkalan Bu’un.Istana yang asli pada tahun 1986 terbakar sehingga kemudian dilakukan pemugaran besar-besaran sampai terbentuk Istana Kuning yang saat ini bisa dinikmati pengunjung.

Masuk ke kompleks Istana Kuning, kita bisa melihat dua bangunan yang seolah terpisah tetapi sebenarnya memiliki pintu penghubung antara satu dengan yang lainnya. Bangunannya terdiri atas aula, kamar Raja, dan dapur. Di aula biasa diadakan acara pernikahan, penampilan tarian atau teater dan berbagai acara rakyat lainnya. Bergeser ke kanan, kita akan menemukan ruangan yang penuh dengan lukisan raja-raja yang pernah memerintah Istana Kuning, manekin sepasang pengantin, dan beberapa artefak peninggalan kerajaan seperti guci, perlengkapan makan, dan benda-benda dari perunggu. Ada juga kereta kencana dan senjata kerajaan.

Aula dan Selasar Menuju Kamar Raja
Kompleks Istana Kuning
Manekin Pengantin
Kereta Kencana
Lukisan Raja-raja

Di bawah kompleks istana ini, kita bisa menikmati pemandangan kota Pangkalan Bun dari atas. Kalau diperhatikan, dan dari cerita pemandu kami, bangunan di Pangkalan Bun terdiri dari beberapa jenis bangunan. Bangunan tersebut mencirikan suku yang mendiami Pangkalan Bun seperti penduduk asli, penduduk Tionghoa, dan penduduk Jawa.

 
Pangkalan Bun

Okay, lets meet the main topic… (topik pembukanya kepanjangan -___-)

So, i would like to tell ya some great experiences with Tanjung Puting National Park…

Here we go…

Jadi, untuk menuju TNTP (Taman Nasional Tanjung Puting) kita harus berkendara menuju Pelabuhan Kumai kurang lebih 30 menit. Pelabuhan Kumai ini pelabuhan yang cukup ramai. Di sekitarnya banyak ditemukan bangunan-bangunan tinggi semacam ruko yang ternyata kandang eh maksudnya sarang burung walet.

Dari Pelabuhan Kumai, kami menggunakan speedboat. Lebih afdol sebenarnya make klotok. Jadi klotok itu semacam kapal berukuran hmmm.. sedeng lah yaa yang biasa dipake turis-turis menjelajah sungai-sungai menuju Tanjung Puting. Semacam perahu yang di pilem Anaconda itu loh…

Klotok

Paket traveling dengan klotok itu bisa memakan waktu 3 hari. Banyak turis mancanegara yang sangat menikmati menggunakan fasilitas klotok ini. Rate price-nya sih sekitar IDR 2,7 – 4 juta. Tergantung mau berapa lama dan bagaimana pelayanannya. Well, karena saya makenya gratisan, jadi dikasi speedboat pun sudah Alhamdulillah. Kapan-kapanlah menikmati melancong pake klotoknya. Hehehe…

Perjalanan menggunakan speedboat memakan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke Camp Lakey. Tetapi karena pake mampir-mampir untuk ketemu masyarakat di Desa Sekonyer jadi waktu tempuhnya lebih dari itu. Saya melintasi ekosistem mangrove yang ada disepanjang sungai Sekonyer. Sayang tapi airnya coklat. Kata bapak petugas, itu karena di atas TNTP ada pertambangan, jadi air yang mengalir ke Sungai Sekonyer ini jadi keruh. Vegetasi yang bersentuhan langsung dengan air pun nampak tidak sehat  Hmm, saya jadi inget salah satu scene yang saya pernah baca di Partikel. Tentang air sungai yang coklat di satu sisi sungai dan hitam khas rawa di sisi sungai lainnya. Saat melewati sungai yang di maksud (pengkolan menuju Camp Lakey), miris rasanya. Betapa manusia itu bisa sangat merusak apa yang sudah diberikan Tuhan untuk dia.

See that 2 tone colours..! 😦

Okee, setelah melewati pengkolan tersebut. Aliran sungai kemudian menyempit, disisi ini hutannya beneran berasaaa. Kiri kanan yang dilihat pohon semua, dengan air rawa yang bisa dipake ngaca, tapi jangan berani-berani nyelupin tangan ke air, karena kamu gak akan pernah tau di dalam air itu ada apaan. Bisa jadi udah ada bu’aya yang lagi mangap-mangap nunggu dikasi makan. Hehehe…

Beberapa saat melewati aliran ini, kami tiba-tiba dikejutkan oleh makhluk yang tiba-tiba juga nyemplung ke air. Ternyata ohh ternyata itu adalah seekor bekantan. Jadi, kebiasaan primata-primata disana kalo lagi pengen nyebrang, biasanya nunggu ada kelotok atau speedboat, katanya sih kelotok atau speedboat itu bisa menghalau buaya yang biasa nongkrong tepi-tepi sungai untuk bersembunyi, jadi si bekantan dkk yang lewat bisa dengan aman menyebrang tanpa takut diterkam.

Nah, gak berapa lama kemudian kami tiba di Camp Lakey. Menambatkan speedboat di darmaga kemudian meniti dermaga kayu menuju ke dalam. Saat itu salah satu bangunan di Camp Lakey sedang direnovasi jadi banyak bapak-bapak pekerja yang berseliweran. Kami kemudian dipandu jalan-jalan oleh mas-mas muda yang bertugas di Camp Lakey. Jadi, di Camp Lakey ini, orang-orang utan dibiarkan bebas berkeliaran dan berinteraksi dengan manusia. Di sini, ada bangunan pusat informasi orang utan, di dalamnya kita bisa melihat foto-foto orang utan dan turunan-turunannya yang ada atau pernah lahir di Camp Lakey. Uniknya, nama anak-anak orang utan ternyata mengikuti nama indukannya. Misalnya indukannya diberi nama Siswoyo maka semua turunannya (anak sampe cucu sampe cicit) akan diberi nama dengan huruf awal S. Seleb orang utan di tempat ini ada Tom si pejantan dan Siswi si betina. Tapi sepertinya saat berkunjung ke sana, belum berjodoh bertemu Tom dan Siswi. Kami hanya sempat bertemu dengan bekas makanannya berupa kulit pisang yang berserakan di jalanan (sedihhnyaaa…. T.T ). Ternyata, waktu kedatangan kami itu bertepatan dengan musim berbuah buah-buahan di hutan, jadi mereka lebih memilih menjelajah ke dalam hutan ketimbang nongkrong di sekitar basecamp :'((. Salah waktu berkunjung rupanya… Alih-alih nontonin orang utan, yang ketemu malah babi hutan yang ternyata dengan bebasnya berkeliaran juga di daerah ini..ada juga si Macaca fascicularis yang asik loncat di antara semak-semak :))

Nah, sebelum lupa. Kepopuleran Tanjung Puting tidak bisa dilepaskan dari seorang wanita pecinta orang utan yang sudah berpuluh-puluh tahun berinteraksi dengan orang utan di Tanjung Puting, Prof. Birute namanya. Orang-orang di TN sih memanggil dia ibu Birute. Ibu Birute ini bagian dari Orang Utan Foundation atau biasa disebut OFI. Jadi, OFI ini semacam NGO yang bekerjasama dengan pemerintah mengurusi orang utan di TNTP.

Narsis di depan papan resort pun tak terlewatkan ;D
Darmaga Camp Lakey
Tempat si Macaca berkeliaran
Salah satu jalan di basecamp Camp Lakey
Silsilah keluarga orang utan di buat seperti ini :))

Karena hasil celingak-celinguknya nihil di Camp Lakey, kami beralih tujuan ke Tanjung Harapan. Tanjung Harapan ini salah satu pos yang juga menjadi favorit wisatawan. Di pos ini, kita bisa melihat dan berinteraksi secara langsung juga dengan orang utan saat jam pemberian makan. Kami tiba di Tanjung Harapan sekitar pukul 13.00, makan siang kemudian istirahat sejenak. Selain kami, sudah ada beberapa klotok yang bersandar dan beristirahat menanti waktu pemberian makan untuk orang utan. Nah, jadwal ngasih makan orang utan di Tanjung Harapan ini biasanya sekitar pukul 14.00, wisatawan akan berbondong-bondong menuju tempat makan orang utan. Dua orang petugas akan datang dengan membawa keranjang makanan biasanya pisang dan umbi-umbian. Saat waktu makan tiba, kami pun beranjak ke tempat makan orang utan. Ada cara khas untuk memanggil orang utan berkumpul. Mungkin karena sudah terbiasa, diwaktu tersebut, saat mendengar panggilan. Beberapa orang utan pun kemudian satu per satu memasuki tempat makan. Mereka datang, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Yang pertama terlihat seorang eh seekor pejantan dengan tubuh besar dan pelipis yang lebar berayun dari satu pohon ke pohon yang lain. Kemudian disusul dengan betina yang berayun sambil menggendong bayi orang utan. Dari sisi lain datang juga seekor pejantan. Saat makan, pejantan yang lebih kuat atau lebih berkuasa akan dibiarkan makan terlebih dahulu oleh orang utan pejantan atau betina lainnya. Jika tidak, pejantan yang kuat itu bisa marah dan berkelahi dengan pejantan yang lebih lemah. Jadi mereka pun cari aman. Setelah menilai pejantan kuat tadi sudah rada kenyang, baru deh si ibu orang utan and the baby dan pejantan lain ikut menikmati makanan yang sudah disajikan. Ada juga orang utan yang tidak mau ke meja makan jadi dia di beri makan di bawah pohon..

Daya tarik ini yang banyak sekali diminati oleh wisatawan, khususnya wisatawan asing. Mereka dengan bekal kamera yang lensanya panjang-panjang akan mengabadikan segala momen kedatangan, makan dan interaksi orang utan itu.

These moments were so alive :))

Untuk pertama kalinya saya melihat orang utan di luar kebun binatang dan sirkus.

As ending, we should be proud for being a part of Indonesia.

Salah satu cara bersyukurnya, seharusnya kita lebih menyayangi lingkungan di sekitar kita.

Lets save Orangutan :))

Advertisements

2 thoughts on “Touched Down Tanjung Puting National Park

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s