A fresh start begin with…

2017.

Kebanyakan orang akan menyusun resolusi, walaupun resolusi tahun-tahun kemarin belum semuanya kesampaian. For me, personally… I don’t have any resolution for this year. Merasa memulai tahun baru pun telat.

Mungkin dengan mulai menulis di blog ini lagi salah satu simbol saya memulai tahun baru saya. Oooh dan yang paling ingin saya bagi dengan tulisan ini sebenarnya, saya merasa memulai tahun baru ini dengan …. “BERBENAH” literally berbenah.

Saya membersihkan kamar, mengatur ulang buku-buku. Memisahkan buku sesuai dengan temanya. Buku yang saya pajang di meja adalah yang saya prioritaskan untuk saya baca dan buku yang telah selesai saya baca saya masukkan ke dalam kontainer. Membersihkan kotak obat dari obat-obatan yang sudah kadaluwarsa. Membuang kosmetik-kosmetik kadaluwarsa. Daaan akhirnya bisa membuang draft-draft proposal dan tesis yang tahun kemarin memenuhi kepala sampai mau pecah. Sampaii membersihkan kamar mandi dan memutuskan punya poni baru.

Saya pernah mengingat mbak Dee memposting sebuah buku di akun instagramnya. Buku tersebut kurang lebih membahas, tentang perilaku berbenah orang-orang. Akhirnya saya meng-googling kembali buku itu dan mendapat review mbak Dee di blog-nya. Buat saya, berbenah mungkin satu bentuk pelepasan stress yang biasa saya lakukan kalau sedang suntuk. Tapi ternyata, berbenah menurut buku tersebut bukan sekedar berbenah. Proses berbenah, jika diresapi mengajarkan banyak hal pada pelakunya.

Hari ini saya mungkin berbenah untuk sekedar mendapat meja yang layak untuk saya sebut workspace saya (biasanya meja ini penuh dengan berbagai tumpukan file dan buku dan toples cemilan), tapi harapannya dari meja yang lebih menyenangkan tahun ini saya bisa lebih banyak membaca dan lebih banyak menulis.

Happy new year, yorobun!

Advertisements

Si Komo a.k.a Si Komodo di Taman Nasional Komodo

One of my bucket list was coming true on the last May.

Saya akhirnya bisa menginjakkan kaki di Taman Nasional Komodo. Rencana liburan yang disusun iseng-iseng dan iseng-iseng terealisasi juga hehehe. Perjalanan ke Komodo ini bagian dari perjalanan panjang setelah seminggu perjalanan dinas di Jayapura. Saya dan teman-teman memutuskan sebelum kembali ke Jakarta (yang first plan-nya dari Komodo balik lagi ke Jayapura) akan main ke Pulau Komodo dulu. Sekalian merayakan ulang tahun sahabat saya, Putri yang kerap saya panggil Ibu.

Perjalanan ke Pulau Komodo kami mulai dari Denpasar, menggunakan maskapai Garuda Indonesia dengan jenis pesawat bombardir tujuan ke Bandar Udara Komodo-Labuan Bajo. Untuk perjalanan dari Denpasar menuju Labuan Bajo, kalau tertarik menikmati Gunung Tambora dari atas, saya sarankan memilih tempat duduk di bagian kiri, walau di sebelah kanan juga pemandangan tidak kalah cantik. Penerbangan ini ditempuh sekitar 1 jam 25 menit. Sesampai di Labuan Bajo, matahari sudah sangat menyengat walaupun itu belum pukul 10.00 WITA. Kami bertemu Putri di bandara Labuan Bajo karena dia berangkat dari Ende. Tidak berapa lama kemudian, orang dari Taman Nasional datang menjemput kami dan mengantarkan kami langsung ke darmaga. Di darmaga ini ada bangunan yang menjadi bagian kantor Taman Nasional mungkin seperti yang ada di Taman Nasional Tanjung Puting (baca disini), tempat transit sebelum menyeberang. Kami membicarakan tempat-tempat apa saja yang ingin kami kunjungi selama dua hari di Pulau Komodo yang jadi list tentu saja Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Kelor, Pantai Pink dan Pulau Bidadari.

20150523_103103

Boat untuk menyeberang ke Koodo

Karena kami menginap di mess taman nasional, kami harus mempersapkan logistik yang dibutuhkan sampai kami kembali lagi ke Labuan Bajo. Saya dan Endra pun ditugaskan ke pasar untuk membeli berbagai logistik. Setelah belanja logistik selesai, kami kembali ke darmaga untuk bersiap-siap melakukan perjalanan ke Pulau Komodo. Awalnya saya pikir boat yang akan kami kendarai menuju Pulau Komodo sama dengan boat yang digunakan ke Raja Ampat. Agak was-was juga karena harus membawa koper segambreng dan backpack yang isinya leptop. Tapi ternyata, boat yang kami kendarai kali ini lebih besar dan lebih nyaman. Sehingga tidak khawatir harus mengangkut koper segambreng tadi hehehe.

Akhirnya setelah sekian bulan saya kembali menikmati angin laut dan pemandangan ombak yang berhamparan di sekeliling, juga bukit-bukit savannah yang menjadi ciri khas Pulau Komodo.

DSCN0622Pemberhentian pertama di mulai di Loh Buaya alias Pulau Rinca. Jarak tempuh ke pulau ini sekitar 40 menit dengan boat kapasitas 500pk. Pulau ini adalah pulau yang paling banyak populasi Komodo-nya dibanding pulau-pulau sekitar. Masuk ke dalam Resort Loh Buaya, sekitar 5 menit jalan kaki kami menemukan bangunan fasilitas resort seperti tempat ticketting, kantin, dapur dan aula istirahat. Setiap pemandu di resort ini membawa semacam tongkat kayu bercabang dua. Tongkat tersebut digunakan untuk menghalau komodo di saat yang diperlukan. Dalam perjalanan masuk, kami disambut oleh sepasang patung Komodo yang berdiri tegak. Tidak berapa lama, di sisi jalan kami sudah melihat anak komodo sedang berjalan ke arah semak. Such a pleasent welcoming. Kata Om David (pemandu kami selama di Komodo), perilaku anak komodo kadang lebih berbahaya dari komodo dewasa. Karena daya geraknya sangat lincah. Tapi di sisi lain, anak komodo banyak menghabiskan waktu mudanya di atas pohon karena bisa menjadi sasaran empuk komodo-komodo dewasa. Anak komodo yang baru saja melintas berumur sekitar 2 tahun tetapi ukuran tubuhnya seperti biawak dewasa.

DSCN0689

With Om Sam, petugas ticketting Komodo yang super ramaah 😀

First stop at Pulau Rinca. Mengakrabkan diri dengan kawanan komodo yang senang nangkring di bawah dapur. Spot ini jadi spot favorit wisatawan yang berkunjung di Pulau Rinca, karena memang di bawah dapur ini bisa berkumpul sekitar lima atau lebih komodo. Dan kalau lagi kekenyangan, komodo-nya dalam leyeh-leyeh mode : ON. hehehe.

IMG_1579

Lagi serius dengerin cerita Om David

Jarak aman yang paling berani versi saya :D

Jarak aman yang paling berani versi saya 😀

Pada saat kami berkunjung, ada sekitar 9 komodo yang istirahat di sekitar dapur. Semuanya komodo dewasa. Mereka berada di dapur karena dapur jadi ya tempat sumber makanan seperti sisa-sisa daging dan sebagainya. Kalo lagi kenyang, si komodo ini bisa hibernasi alias leyeh-leyeh mode: ON sampai berhari-hari. Kalo lagi dalam keadaan begini, kita bisa sedikit merasa aman. Tapi jangan sampai lengah juga. Komodo sensitif terhadap gerakan yang tiba-tiba dan bau-bauan darah. Mungkin karena alaminya dia adalah predator. Tapi konon katanya, kalau di kejar komodo, usahakan lari dalam pola zig-zag, ini bertujuan untuk membuat si komodo bingung. Saya sih gak bersedia mengalami juga hehehe.

Soo.. apa yang bisa kita lakukan saat berkunjung ke Pulau Rinca? First of first adalah tracking. Dan memang ini sih kegiatan andalan yang ditawarkan Pulau Rinca. Menikmati kehidupan liar. Dari pos dapur tadi kami berjalan menuju bukit. Ada beberapa rute tracking yang ditawarkan pemandu saat kita mengunjungi Pulau Rinca. Rutenya tergantung jarak ada yang jarak dekat, jarak sedang dan jarak jauh. Sayang sekali saya lupa perbedaan dari ketiga rute tersebut. Rombongan kami memilih rute sedang untuk mengefisienkan waktu dan menghemat tenaga. Rute ini membawa kami mengelilingi setengah Pulau Rinca. View yang paling populer view dari puncak bukit yang dilatar belakangi laut.

IMG_1631

IMG_5124

Tracking ini cukup membuat kami excited. Konon katanya, dulu bukit ini adalah perairan, jadi tidak heran kalau dalam perjalanan mendaki bukit ini kita bisa menemui fosil kerang-kerangan seperti di bawah ini 🙂

IMG_5115

IMG_5117

Tracking path

IMG_1610

Turun dari bukit sebagai penutup tracking kami di Pulau Rinca. Apa saja yang kami temua selama tracking. Its a lot..!. Bahkan Om David said Tuhan memberi kami rejeki untuk bertemu makhluk-makhluk yang belum tentu bisa ditemui orang lain. Pertama masuk kami bertemu anak komodo. Saat tracking tak berapa lama kemudian kami bertemu burung gagak (agak horror sih ketemu burung gagak siang-siang but its their habitat hehe). Tidak berapa lama, di depan kami tiba-tiba ada komodo dewasa berjalan ke arah kami. Tidak jauh dari situ, ada kerbau yang gedee banget lagi berendam di kubangan. Kami juga bertemu burung Gosong, hmmm mungkin karena penampakan fisiknya didominasi hitam jadi disebut burung Gosong. Burung ini juga lebih menyerupai ayam dari pada burung. Saat kami lewat, sepertinya ada sepasang yang sedang membuat sarang. Ceritanya Om David, burung ini burung tipe setia. Jika punya pasangan tidak akan berganti sampai ajal menjemput *duh. Kalau pasangannya mati duluan, baru deh mencari pengganti yang baru hehehe. Kami juga melewati kumpulan sarang komodo, yang bentuknya menyerupai lubang. Mirip-mirip lubang yang dibuat burung Maleo tapi ini ukurannya lebih besar.

Turun dari bukit, kami ngaso sebentar di aula yang disediakan TN dan berbincang-bincang dengan petugas TN yang lain. Btw om David also filming us hihih.

C360_2015-05-22-11-59-32-407

Travel mates

IMG_1571

Gak sah! kalo belum poto di plank 😀

Ok the next stop is Pulau Kalong yang menjadi sarang dari buanyaaaaak banget kelelawar. Kami mampir sebentar untuk melihat atraksi kelelawar di Pulau ini. Pulau ini dari penampakannya lebih mirip kumpulan pohon-pohon bakau tempat si kelelawar tadi menggantungkan diri. Driver boat sengaja membisingkan suara mesin boat saat kami mendekat sehingga kelelawar beterbangan.

DSCN0727

They’re all bats

Setelah mampir di Pulau Kalong, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Komodo, tempat kami akan bermalam malam ini dan melanjutkan penjelajahan esok hari. 🙂 🙂

IMG_5058

IMG_20150621_102419

It looks like bukit Teletubbies

IMG_1661

Pulau Komodo.. Yeeay..!!

DSCN0738

Pasukan koper dan ransel 😀

Di Pulau Komodo, kami menginap di salah satu guest house di daerah belakang. Guest housenya terdiri dari beberapa kamar. Setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi, 2 tempat tidur (kami cecewek dapat 3 tempat tidur satu kamar karena gak ada yang mau misah 😀 ) dan lemari. Saat kami datang, kondisi sedang kemarau jadi persediaan air agak sedikit. Di luar kamar disediakan meja dan bangku yang agak besar untuk tempat kami makan dan berkumpul. Karena tiba hampir sore, kami memutuskan untuk beristirahat sambil membongkar-bongkar barang yang dibutuhkan dan bersih-bersih. Sore hari (karena pas nyampai udah kegirangan liat pantai) kami bermain-main di darmaga menikmati pemandangan senja 🙂

Pengen nyemplung sih, tapi saya pantainya agak gak cocok buat nyemplung hehe. Di pinggir pantai kami masih melihat babi hutan bebas berkeliaran. Di dekat guest house kami pun banyak keluarga rusa yang bebas jalan-jalan. Sepertinya mereka sudah terbiasa dengan keberadaan manusia. Tidak banyak yang kami temui menginap di Pulau Komodo. Kebanyakan turis memang mungkin lebih memilih menikmati fasilitas menginap di kapal yang disediakan banyak biro perjalanan untuk menikmati Pulau Komodo. Kebanyakan mereka akan menginap di Pulau Kelor untuk menikmati sunset kemudian berangkat ke Pulau Komodo untuk tracking atau bird watching di pagi hari.

Penjelajahan kami di mulai di pagi hari. Sekitar pukul 7 kami sarapan dan dijemput Om David untuk mulai tracking kami di Pulau Komodo. Tujuan kami ke Sulpurhea Hills sambil bird watching, syukur-syukur kalo ketemu di Komodo lagi di jalan. Om David pemandu kami menjelaskan dengan baik jenis-jenis burung yang kami temui di jalan, juga tumbuhan-tumbuhannya. Kami sempat bertemu burung Gosong lagi di jalan. Melihat pohon kedondong yang merenggas, dan sempat mencoba buahnya yang asam-asam sepat meskipun sudah matang :D. Di jalan kami pun bertemu satu komodo yang sedang berjemur.

Perjalanan ke Sulpurhea Hills tidak memakan waktu lama. Sesampai di atas bukit, pemandangan yang kami lihat sehamparan hutan dengan banyaak sekali burung kakak tua beterbangan. Satu sisi savannah dan di sisi lain ada hutan yang penuh dengan pepohonan.

 

 

IMG_5157

Bird Watching in the morning

IMG_20150523_081200

Sulpurhea Hill and Me 😀

IMG_5168

Sulphurea Hill from the other side

 

20150523_065250

Setelah menikmati Sulpurhea Hill kami turun dan kembali ke guesthouse. Ternyata ada tempat nongkrong komodo juga yang bisa dijumpai di dekat bangunan dapur. Kami melihat ada beberapa komodo sedang leyeh-leyeh. Komodo-komodo itu kata om David umurnya udah puluhan tahun. Mungkin karena saking lamanya bertugas di sini, petugas bisa membedakan komodo yang satu dengan yang lain, which in my eyes they’re all the same hahaha.

Pengalaman paling mengesankan, saat kami akan kembali ke guesthouse mengambil barang-barang untuk melanjutkan perjalanan tiba-tiba di depan kami ada komodo dewasa sedang berjalan dengan santainya.

IMG_1778

Si Komodo bahkan sempet photo session pake gaya “nguap cantiks” 😀

20150523_082310

The almighty dragon, he walked to our guest house

IMG_1787

Percayalah! Saat foto ini diambil ada rasa deg-deg serr takut komodonya tiba-tiba berubah arah.

Daan ini menutup penjelajahan kami di Pulau Komodo. Next stop masih ada pantai (not too) Pink dan pulau Bidadari tempat kami akan menikmati pemandangan bawah laut Taman Nasional Komodo 😀

IMG_1805

Pantai (not too) Pink

Pas mampir di pantai ini sebenarnya kami bertanya-tanya.. Sebelah mananya yang Pink? Agak tidak seperti yang kami bayangkan dan yang banyak kami lihat di foto-foto yang terekam di sosial media. But, playing at beach its already joy it self sooo kami menikmati-menikmati saja sih. hehehe. Ternyata pasir pantainya akan pink jika terkena air karena di dalam pasirnya memang ada komponen-komponen berwarna merah entah hancuran karang atau alga yang berwarna merah. Di spot ini kami snorkling. Agak berbeda dengan snorkling di Raja Ampat, di sini saya memakai pelampung karena arusnya cukup kuat dan sempet agak deg-degan juga soalnya untuk melihat pemandangan bawah laut yang cakep mesti berenang-renang nun jauh ke tengah huhuhuhu.

IMG_1820

Jauuuh kan dari pantai berenangnya 😀

Agaaain 😦 kami tidak membawa alat dokumentasi yang mumpuni untuk potret bawah air. Padahal yang kami lihat saat snorkling cukup menarik untuk di abadikan.

Setelah pantai Pink, kami ke Pulau Bidadari. Pulau Bidadari ini juga salah satu spot snorkling di TN Komodo. Di tepi-tepi pantai aja sudah bisa ditemukan banyak ikan berkeliaran. Apalagi kalau main ke agak tengah yang agak sedikit menyeramkan karena katanya posisi karangnya agak curam soo you should be prepare with your life vest :D.

Tidak banyak foto yang bisa diabadikan saat bermain di pantai karena kami banyakan berenangnya dan berhubung peralatan dokumentasi tidak mendukung untuk dicemplungin ke air hehehe. Setelah selesai di Pulau Bidadari, kami kembali ke Labuan Bajo. Saya akan melanjutkan perjalanan ke Denpasar dan 3 teman lainnya harus melakukan tugas di Labuan Bajo selama beberapa hari sebelum kembali lagi ke Bogor.

Thats my another traveling diary. Sudah jadi draft berbulan-bulan dan harusnya sudah di publish berbulan-bulan yang lalu juga. But welll, menulis butuh mood dan waktu luang hahaha.

 

Hotel Grand Mega Cepu

Well, postingan ini akan jadi postingan review hotel pertama saya. Bermula dari perjalanan dinas ke Padangan yang kebetulan kami di sediakan tempat menginap di Cepu agar lebih dekat ke Padangan. Cepu itu salah satu kecamatan di Kabupaten Blora, ibu kotanya sendiri ada di Blora. Tapi Cepu lebih ramai daripada Blora. Mungkin karena beberapa site BUMN ada di sini seperti Pertamina dan Perhutani. Jadi fasilitas akomodasi yang baik tentu menjadi hal yang penting.
Awalnya bayangan saya, Cepu itu kecamatan kecil yang masih sepi makanya agak takjub juga kalo Cepu punya fasilitas hotel sekelas Grand Mega.
Kami tiba di hotel malam hari, awalnya saya gak terlalu memperhatikan lobby karena sudah lelah dan pengennya langsung tidur ajah. Saya dan tim check in dan di antar ke kamar masing-masing. Setelah masuk ke hotel bagian dalam saya pun disambut dengan konsep hotel resort yang menyenangkan. Ada kolam renang dan di sisi kiri kanan jalan setapak menuju kamar dihiasi tanaman-tanaman hias dan lampu-lampu temaram. Konsep hotel ini sedikit mengingatkan saya dengan hotel Novotel Bogor.
Kamar saya berada di unit belakang. Hotel ini sendiri sudah berdiri sekitar 5 tahun. Unit belakang bagian yang baru saja selesai dibangun. Kamar saya berada di lantai 2.

image

I got twin bedroom

image

Really love the cozy fuschia seat and the pajamas

image

image

image

I got a huge mirror 😁😁

image

image

The scenery outside the room

image

The bathtube outside the room, such a positive ambience

image

image

This is the room terrace. Its quite shabby chic style

image

image

Who can't stand this lovely hanging coach

image

image

This path view i was missed on the night

image

Red cushion on the lobby

image

image

Unfortunately i only spend one night on this hotel.

Babi Face 🐷

Literally babi face..
Dua hari ini saya mencoba menggunakan character mask keluaran The Face Shop.. Karna kulit saya cenderung kering jadi saya mencoba variant yang memberikan efek melembabkan. Dari beberapa variant ternyata karakter babi yang memiliki kandungan manfaat melembabkan. Membeli produk ini juga sebenarnya karna penasaran hehe.. Dan produknya terlihat lucu.

image

image

First ingridients-nya water ada juga castor oil. Intinya masker ini bertujuan untuk meningkatkan kelembaban kulit.

image

Kesan pertama pemakaian “sangat lengket”. Di mask sheetnya semacam mengandung cairan, kalo pernah merasakan tekstur serum OST C20, cairan face mask ini lebih sticky lagi. Aturan pemakaiannya 15 menit. Tapi setelah 15 menit digunakan, facemask-nya tidak kunjung kering. Saya men-tap muka seperti yang dianjurkan. Dan muka terasa sangat lengket. Saya harus membiarkan beberapa puluh menit lagi baru setelah itu saya melanjutkan rutinitas skin care saya yang lain. Dua hari memakai face mask ini saya tidak merasakan perbedaan signifikan (ada masker tertentu yang punya efek “enak” setelah digunakan). I can’t say I’m not into this facemask unfortunately, walopun karakternya minta dicoba banget hehe.

“A Flash” of Pulau Dewata

Kenapa judulnya “a flash” karena emang postingan ini cerita sitik-sitik perjalanan saya di Pulau Dewata (karena gak pernah lama dan gak pernah really intent to jalan-jalan). I try to brought up my memories by the picture so you’re gonna see much more pictures in this post.

A good morning smile!

A good morning smile!

A good morning smile, no make up no lipstick. Fresh from the matress LOL. This trip was my first trip to Bali. I was so excited, tough i came here for work. Kami menginap di penginapan PU yang berada di tepi Pantai Sanur. Sanur is best spot to spot the sunrise. So here I was, woke up early and in rush visit the beach to spot my first sunrise at Sanur.

The cloud covered the sun, but it didn’t decrease its beauty. Seiring mentari muncul, doa dan puji pun beriringan dipanjatkan semoga Sang Pemilik semesta memberkati hari ini. Di pagi hari, orang-orang Bali mulai meletakkan sesajen yang isinya berbagai macam bunga di tempat-tempat yang dianggap sakral.

Sunset at SanurPagi itu, saya melihat banyak muda-mudi yang berkumpul memakai pakaian adat. Ternyata semalam ada ibadah (unfortunately i forgot the name 😦 ). Mereka menyingsing fajar bersama-sama. Ibadahnya kurang lebih semacam “mendem” alias berendam di laut.

This is our cottage during our 5 days work in Bali

This is our cottage during 5 days work in Bali

As I told you before, kami menghabiskan 5 hari kerja kami di sebuah cottage nyaman bernama Hotel Werdhapura. We got a cottage with 4 rooms inside. and you just need a few step to the beach and the pool. It so cozy. They have many variants room. You can choose to stay at single room (like in convention hotel) nor 2 rooms cottage nor 4 rooms cottage like us. There’re also has cottage with mini kitchen inside, really like a home.

Tirta Empul

Tirta Empul

Tirta Empul was the first tourist attraction that i visit. Tirta Empul ini semacam permandian suci yang masih banyak dikunjungi masyarakat. Di sekitar pemandian juga ada beberapa bangunan pura yang sangat khas Bali. Di sisi Barat Tirta Empul sendiri ada Istana Kepresidenan Tampak Siring dengan model arsitekturnya yang menarik. Konon katanya, dari atas istana bisa terlihat siapa saja yang menggunakan permandian.

IMG_4785

Pemandangan di kompleks Tirta Empul

Hari itu, lumayan banyak wisatawan yang berkunjung. Masuk ke sini pun harus memakai sarung seperti orang-orang Bali. Ternyata sore itu ada peribadatan. Beberapa kelompok orang yang selesai mandi di pemandian, beranjak ke pelataran pura unuk beribadah. Overall, tempat ini lumayan menarik. Arsitektur Balinya yang khas saja udah pas banget jadi objek foto.

Pantai Pandawa

Pantai Pandawa

Poto ini iseng saya ambil saat mengunjungi Pantai Pandawa (after visiting Tirta Empul). Well, frankly agak sedikit envy awalnya karena kok yaa saya jalan-jalannya juga gak bareng pasangan saya hihihihi. Saat kami berkunjung, pantai ini lumayan sepi. Tapi karena emang gak niat bermain basah-basahan jadi kami menikmati pantainya cukup di tepian atas saja sambil menikmati es kelapa dan angin pantai. Masuk ke area pantai kita sudah dipertontonkan pemandangan pahatan batu (sebenarnya lebih terlihat bekas areal galian tambang saking rapihnya potongannya), lebih ke dalam lagi bisa ditemukan patung lima pandawa. Mungkin terinspirasi dari namanya atau mungkin karena ada patung itu jadi namanya dinamakan pantai pandawa hehehe.

Bermain ombak :)

Bermain ombak 🙂

Pantai Jimbaran, salah satu pantai yang jadi spot untuk hunting sunset foto. Sore itu sunset-nya juga tidak begitu clear, but beatiful tough. Sayangnya pantainya agak sedikit kotor oleh sampah-sampah dari laut yang terbawa ombak ke pantai. Tapi ini tidak mengurangi antusiasme orang-orang untuk mengunjungi pantai ini.

P1080517 (2)

Detik-detik tenggelamnya matahari akan menarik para wistawan berkumpul di bibir pantai dan mengeluarkan peralatan dokumentasi mereka, mulai yang kamera pocket seperti saya atau yang lebih canggih lagi, lengkap dengan tripod dan lensa super panjangnya. While other’s just enjoy the sunset from their table or playing with the water.

Sunset at Kuta

Sunset at Kuta

As closer to our flash we had fun in one of beach restaurant in Kuta. And got this beautiful picture to show. Kuta also known as best spot for sunset. I really happy that the sky is clear and the sun just rest peacefully.